saya punya tempat curhat baru
lebih banyak foto dan cerita di www.pelangimimpi.multiply.com
silahkan mampir
Tuesday, February 10, 2009
Tuesday, April 08, 2008
dua tahun
pakne sayang..
terima kasih untuk kiriman mawarnya hari ini
mawar dengan warna yang sama: merah, pink, dan putih
tiga warna yang selalu pakne hadirkan setiap kali kita melewati waktu yang istimewa
meski sesungguhnya, pakne menawarkan begitu banyak warna selama dua tahun ini
warna kehidupan yang membuat bune banyak belajar memaknai hidup
dan melihat hari berjalan lebih dari sebuah peristiwa biasa
dan terima kasih untuk puisi manisnya
puisi yang sama, ketika dua tahun lalu kita mengikat cinta
membuat bune terbang kembali ke masa lalu
saat kita masih sangat mabuk
mudah tersipu, meski hanya dengan sedikit sentuhan kalbu
tentu sekarang tantangannya berbeda
karena hidup kita semakin nyata
bukan hanya pakne dan bune saja
ada adik laksmi di surga
dan adik bayi yang sedang rajin-rajin menari di dalam perut sana
tapi dengan pakne, bune bisa melewatinya dengan gembira
dan terima kasih untuk kue tiramisunya
kue lapis kopi yang selalu bune suka
seperti hidup kita dua tahun ini
lapisan manis dan pahit bergilir datang
namun layaknya kelezatan sebuah tiramisu
setiap lapis hanya akan terasa nikmat
jika disantap berbarengan, bukan lapis demi lapis
seperti yang selalu pakne ajarkan
setiap jatuh dan bangun kehidupan
seluruhnya sesungguhnya adalah nikmat Tuhan
membuat kita memaknai cobaan, mengerti apa itu keikhlasan
dan mendalami apa sebetulnya arti kebahagiaan
lebih dari itu
terima kasih untuk hari yang penuh kejutan
membuat pipi ini bersemu merah
membuat mata ini basah
pakne..
entah apa yang akan terjadi tahun depan
tapi bune berjanji, kita akan bergandeng tangan lebih kuat
saling menguatkan apapun yang terjadi
sungguh.. dua tahun ini adalah berkah tak terhingga!
selamat dua tahun menikah sayang
lolove you
bune
terima kasih untuk kiriman mawarnya hari ini
mawar dengan warna yang sama: merah, pink, dan putih
tiga warna yang selalu pakne hadirkan setiap kali kita melewati waktu yang istimewa
meski sesungguhnya, pakne menawarkan begitu banyak warna selama dua tahun ini
warna kehidupan yang membuat bune banyak belajar memaknai hidup
dan melihat hari berjalan lebih dari sebuah peristiwa biasa
dan terima kasih untuk puisi manisnya
puisi yang sama, ketika dua tahun lalu kita mengikat cinta
membuat bune terbang kembali ke masa lalu
saat kita masih sangat mabuk
mudah tersipu, meski hanya dengan sedikit sentuhan kalbu
tentu sekarang tantangannya berbeda
karena hidup kita semakin nyata
bukan hanya pakne dan bune saja
ada adik laksmi di surga
dan adik bayi yang sedang rajin-rajin menari di dalam perut sana
tapi dengan pakne, bune bisa melewatinya dengan gembira
dan terima kasih untuk kue tiramisunya
kue lapis kopi yang selalu bune suka
seperti hidup kita dua tahun ini
lapisan manis dan pahit bergilir datang
namun layaknya kelezatan sebuah tiramisu
setiap lapis hanya akan terasa nikmat
jika disantap berbarengan, bukan lapis demi lapis
seperti yang selalu pakne ajarkan
setiap jatuh dan bangun kehidupan
seluruhnya sesungguhnya adalah nikmat Tuhan
membuat kita memaknai cobaan, mengerti apa itu keikhlasan
dan mendalami apa sebetulnya arti kebahagiaan
lebih dari itu
terima kasih untuk hari yang penuh kejutan
membuat pipi ini bersemu merah
membuat mata ini basah
pakne..
entah apa yang akan terjadi tahun depan
tapi bune berjanji, kita akan bergandeng tangan lebih kuat
saling menguatkan apapun yang terjadi
sungguh.. dua tahun ini adalah berkah tak terhingga!
selamat dua tahun menikah sayang
lolove you
bune
Monday, February 11, 2008
The Amazing Race
The Amazing Race dan The Amazing Race Asia adalah dua tontonan favorit saya. Perlombaan melintasi bumi, menghadapi berbagai tantangan,dan selalu melahirkan kejutan. Tim yang pertama berangkat, belumlah tentu yang pertama tiba di finish. Tim yang tampak kuat, juga belum tentu mampu menaklukan tiap tantangan untuk mendapatkan satu amplop petunjuk yang akan membawa mereka pada tantangan selanjutnya. Kejutan-kejutan itulah yang menurut saya menunjukkan sebenarnya, bagaimana sebuah kehidupan berjalan.
Ya, dalam hidup kita tidak pernah tau tantangan apa yang akan menghadang dan menguji kita di masa datang. Itu misteri tersendiri. Sama seperti belasan tim Amazing Race, yang tidak pernah tau akan ke negara mana mereka keesokan hari, apakah akan mudah atau sulit, semua hanya teka teki. Seperti Amazing Race, hidup juga penuh pilihan. Kadang para tim dihadapkan pada pilihan, pada detour challenge,hanya berpadu pada petunjuk singkat, tiap tim harus memilih dan memperkirakan tantangan mana yang lebih mudah ditaklukan, dan memakan waktu lebih singkat. Sama seperti hidup, kadang kita memilih dan membuat keputusan berdasarkan sedikit petunjuk, atau lebih seringnya perasaan. Apa yang kita fikir mudah, ternyata begitu sulit dilakukan. Begitu pula sebaliknya.
Bagian paling seru menurut saya, saat kita menyaksikan sendiri, begitu banyak kejutan di tengah perjalanan. Meski berhasil menaklukan tantangan, belum tentu tim tersebut mampu tiba di pit stop paling cepat. Ada yang mengalami pecah ban, salah menentukan rute perjalanan, atau karena kurang teliti menyimak petunjuk. Ada kalanya, para tim diuji fisiknya, di lain waktu kesabaran mereka di tes, atau kerja sama tim dipertaruhkan. Sama seperti hidup, ada kalanya kita tidak bisa menaklukan semua tantangan seperti apa yang kita bayangkan. Karena setiap dari kita memiliki keunggulan sendiri, juga kelemahan yang mendarah daging. Itulah saat seorang teman dibutuhkan, saat sebuah tim terbentuk , intinya: memadukan kekuatan untuk menaklukan tantangan yang lebih besar.
Tapi menurut saya, The Amazing Race justru adalah perlombaan menaklukan diri sendiri. Pada tiap detik-detik yang menentukan, para tim kadang berselisih paham, yang satu terlalu banyak bicara, yang satu tidak mau mendengarkan. Saat tertekan, ego masing-masing individu muncul. Tak heran, kadang kata makian keluar, tangis air maya keluar, debat kusir menjadi tontonan. Dalam hidup, kita juga kadang demikian. Tanpa sadar kehilangan kontrol, lupa akan hal yang penting dan mulai mempermasalahkan yang remeh temeh. Tantangan terbesar dalam lomba ini adalah memang diri kita sendiri. Sikap saling menghargai, saling percaya, juga kemampuan untuk saling mendengarkan adalah hal-hal kecil yang membuat perbedaan. Hal itu pula yang menguatkan komunikasi.
Lalu apa yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup? The Amazing Race juga mengajarkan, seberat apapun tantangannya, tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik lakukan saja, sebaik-baiknya. Meski kadang kita tampak tertinggal, meski rasa putus asa sudah di depan mata, belum tentu tim tersebut yang sampai terakhir samapi di finish. Selalu ada keajaiban, misalnya ternyata tim lain kesulitan menyelesaikan tantangan, atau salah berbelok sehingga nyasar tak karuan. Berusaha untuk jadi yang terbaik dengan cara yang baik, tak ada guna berbuat curang, meski kadang itu memberikan kenikmatan sesaat, namun at the end, itu hanya membawa keburukan untuk hidup. Selain itu, tidak ada yang lebih baik menghadapi hidup selain bersikap positif. Percaya bahwa akan selalu ada jalan di balik tiap kesulitan.
Above all, The Amazing Race juga mengajarkan, tidak perlulah terlalu serius dalam hidup. Bersenang-senanglah, nikmati tiap tantangan, karena kita tidak bisa memutar balik waktu. Hanya sekali itu saja merasakan naik sepeda di atas laut, atau menikmati pemandangan indah kota-kota dari berbagai penjuru dunia. Pengalaman itu priceless!
Saya rasa, kini saya tau bagaiman menaklukan tahun ini. Selalu ada kejutan, selalu ada tantangan. Namun itulah hidup, kita hanya bisa melakukan yang terbaik, berdoa, dan tidak lupa bersenang-senang :)
Ya, dalam hidup kita tidak pernah tau tantangan apa yang akan menghadang dan menguji kita di masa datang. Itu misteri tersendiri. Sama seperti belasan tim Amazing Race, yang tidak pernah tau akan ke negara mana mereka keesokan hari, apakah akan mudah atau sulit, semua hanya teka teki. Seperti Amazing Race, hidup juga penuh pilihan. Kadang para tim dihadapkan pada pilihan, pada detour challenge,hanya berpadu pada petunjuk singkat, tiap tim harus memilih dan memperkirakan tantangan mana yang lebih mudah ditaklukan, dan memakan waktu lebih singkat. Sama seperti hidup, kadang kita memilih dan membuat keputusan berdasarkan sedikit petunjuk, atau lebih seringnya perasaan. Apa yang kita fikir mudah, ternyata begitu sulit dilakukan. Begitu pula sebaliknya.
Bagian paling seru menurut saya, saat kita menyaksikan sendiri, begitu banyak kejutan di tengah perjalanan. Meski berhasil menaklukan tantangan, belum tentu tim tersebut mampu tiba di pit stop paling cepat. Ada yang mengalami pecah ban, salah menentukan rute perjalanan, atau karena kurang teliti menyimak petunjuk. Ada kalanya, para tim diuji fisiknya, di lain waktu kesabaran mereka di tes, atau kerja sama tim dipertaruhkan. Sama seperti hidup, ada kalanya kita tidak bisa menaklukan semua tantangan seperti apa yang kita bayangkan. Karena setiap dari kita memiliki keunggulan sendiri, juga kelemahan yang mendarah daging. Itulah saat seorang teman dibutuhkan, saat sebuah tim terbentuk , intinya: memadukan kekuatan untuk menaklukan tantangan yang lebih besar.
Tapi menurut saya, The Amazing Race justru adalah perlombaan menaklukan diri sendiri. Pada tiap detik-detik yang menentukan, para tim kadang berselisih paham, yang satu terlalu banyak bicara, yang satu tidak mau mendengarkan. Saat tertekan, ego masing-masing individu muncul. Tak heran, kadang kata makian keluar, tangis air maya keluar, debat kusir menjadi tontonan. Dalam hidup, kita juga kadang demikian. Tanpa sadar kehilangan kontrol, lupa akan hal yang penting dan mulai mempermasalahkan yang remeh temeh. Tantangan terbesar dalam lomba ini adalah memang diri kita sendiri. Sikap saling menghargai, saling percaya, juga kemampuan untuk saling mendengarkan adalah hal-hal kecil yang membuat perbedaan. Hal itu pula yang menguatkan komunikasi.
Lalu apa yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup? The Amazing Race juga mengajarkan, seberat apapun tantangannya, tidak ada gunanya mengeluh, lebih baik lakukan saja, sebaik-baiknya. Meski kadang kita tampak tertinggal, meski rasa putus asa sudah di depan mata, belum tentu tim tersebut yang sampai terakhir samapi di finish. Selalu ada keajaiban, misalnya ternyata tim lain kesulitan menyelesaikan tantangan, atau salah berbelok sehingga nyasar tak karuan. Berusaha untuk jadi yang terbaik dengan cara yang baik, tak ada guna berbuat curang, meski kadang itu memberikan kenikmatan sesaat, namun at the end, itu hanya membawa keburukan untuk hidup. Selain itu, tidak ada yang lebih baik menghadapi hidup selain bersikap positif. Percaya bahwa akan selalu ada jalan di balik tiap kesulitan.
Above all, The Amazing Race juga mengajarkan, tidak perlulah terlalu serius dalam hidup. Bersenang-senanglah, nikmati tiap tantangan, karena kita tidak bisa memutar balik waktu. Hanya sekali itu saja merasakan naik sepeda di atas laut, atau menikmati pemandangan indah kota-kota dari berbagai penjuru dunia. Pengalaman itu priceless!
Saya rasa, kini saya tau bagaiman menaklukan tahun ini. Selalu ada kejutan, selalu ada tantangan. Namun itulah hidup, kita hanya bisa melakukan yang terbaik, berdoa, dan tidak lupa bersenang-senang :)
Thursday, October 25, 2007
Jauh
Pakne…
Iya, bune tau.. pakne pergi ke balikpapannya masih lama..
Masih seminggu lagi, itungannya juga masih bulan depan..
Tapi seperti yang sudah-sudah,saat menanti hal-hal seperti ini, waktu berjalan tidak terasa.. setiap jam, setiap hari rasanya berlalu hanya dalam kejapan mata saja
Kalau ditanya, bune ndak tau musti bilang apa..
Senang, karena ini kesempatan pakne untuk mengibarkan sayap, terbang tinggi dan lalu menaklukan dunia. Selain itu, bune percaya, sudah saatnya pakne menundukkan tantangan yang lebih besar, kembali merasa kosong dan perlu belajar. Hal-hal seperti itu pakne, akan membuat jiwa kita merasa hidup, menajamkan pikiran,dan mengasah ketrampilan.
Bune juga ikut bahagia melihat bangga di wajah pakne. Mengenang kembali perjalanan hidupmu, mulai dari mengemudi subuh hari di kota kecilmu dulu, berkelana keliling kota mencari berita, hingga mencicipi bekerja layaknya orang biasa, Senin hingga Jumat, jam 8 hingga jam 5. Semoga saja, pekerjaan baru nanti tidak akan merampas jiwamu yang selalu bekerja keras, tidak melunturkan semangat pakne yang selalu ingin maju. Dan yang terpenting tidak mengubah pakne untuk selalu berbuat baik bagi orang lain.
Di sisi lain, terselip rasa sedih. Tak terbayang rasanya, menjalani hari demi hari tanpa pakne. Tentu rasanya akan sepi. Lebih sunyi dari malam manapun, bahkan saat angin berhenti berdesir. Bune akan kangen dengan perbincangan kita yang seringkali ndak penting tapi membuat bune tergelak. Bune akan merasa kesepian, saat malam datang dan pagi menjelang. Bune pasti akan rindu, dengan gaya merayu pakne kalau bune ngambek, ketawa pakne saat nonton Tom and Jerry , terutama wangi tubuh pakne di pagi hari
Belum lagi, kalau pakne ngakak saat menikmati banyolan Tukul Arwana dalam Empat Mata,yang lebih sering membuat dahi bune berkerenyit daripada tersenyum. Pakne tau gak? Duduk dekat pakne saja, sudah membuat bune merasa nyaman, tak heran bune seringkali tertidur di pelukanmu. Rasa itu tidak ada duanya.
Ah pakne,tidak pernah terbersit dalam benak bune, akan berjauhan begini. Hanya bertemu satu kali dalam beberapa minggu, tidak lagi memiliki keistimewaan memelukmu kapanpun aku mau. Dan hari itu akan menjadi hari yang selalu bune nanti. Semoga saja, alam mempercepat semuanya dan tidak membiarkan bune menderita dalam rindu setengah mati terlalu lama..
Pakne, baik-baik ya..
love you,
bune
Iya, bune tau.. pakne pergi ke balikpapannya masih lama..
Masih seminggu lagi, itungannya juga masih bulan depan..
Tapi seperti yang sudah-sudah,saat menanti hal-hal seperti ini, waktu berjalan tidak terasa.. setiap jam, setiap hari rasanya berlalu hanya dalam kejapan mata saja
Kalau ditanya, bune ndak tau musti bilang apa..
Senang, karena ini kesempatan pakne untuk mengibarkan sayap, terbang tinggi dan lalu menaklukan dunia. Selain itu, bune percaya, sudah saatnya pakne menundukkan tantangan yang lebih besar, kembali merasa kosong dan perlu belajar. Hal-hal seperti itu pakne, akan membuat jiwa kita merasa hidup, menajamkan pikiran,dan mengasah ketrampilan.
Bune juga ikut bahagia melihat bangga di wajah pakne. Mengenang kembali perjalanan hidupmu, mulai dari mengemudi subuh hari di kota kecilmu dulu, berkelana keliling kota mencari berita, hingga mencicipi bekerja layaknya orang biasa, Senin hingga Jumat, jam 8 hingga jam 5. Semoga saja, pekerjaan baru nanti tidak akan merampas jiwamu yang selalu bekerja keras, tidak melunturkan semangat pakne yang selalu ingin maju. Dan yang terpenting tidak mengubah pakne untuk selalu berbuat baik bagi orang lain.
Di sisi lain, terselip rasa sedih. Tak terbayang rasanya, menjalani hari demi hari tanpa pakne. Tentu rasanya akan sepi. Lebih sunyi dari malam manapun, bahkan saat angin berhenti berdesir. Bune akan kangen dengan perbincangan kita yang seringkali ndak penting tapi membuat bune tergelak. Bune akan merasa kesepian, saat malam datang dan pagi menjelang. Bune pasti akan rindu, dengan gaya merayu pakne kalau bune ngambek, ketawa pakne saat nonton Tom and Jerry , terutama wangi tubuh pakne di pagi hari
Belum lagi, kalau pakne ngakak saat menikmati banyolan Tukul Arwana dalam Empat Mata,yang lebih sering membuat dahi bune berkerenyit daripada tersenyum. Pakne tau gak? Duduk dekat pakne saja, sudah membuat bune merasa nyaman, tak heran bune seringkali tertidur di pelukanmu. Rasa itu tidak ada duanya.
Ah pakne,tidak pernah terbersit dalam benak bune, akan berjauhan begini. Hanya bertemu satu kali dalam beberapa minggu, tidak lagi memiliki keistimewaan memelukmu kapanpun aku mau. Dan hari itu akan menjadi hari yang selalu bune nanti. Semoga saja, alam mempercepat semuanya dan tidak membiarkan bune menderita dalam rindu setengah mati terlalu lama..
Pakne, baik-baik ya..
love you,
bune
Thursday, August 16, 2007
Mimpi Yang Membawamu Kembali
Dear ade Laksmi,
Apa kabar sayang? Setelah menunggu tiga bulan dan berharap hampir setiap malam, akhirnya dua hari lalu ade Laksmi mampir menyapa bune melalui mimpi. Ah, belum pernah rasanya melihat wajah ade Laksmi yang begitu nyata, begitu dekat, begitu detail..
Dua malam lalu itu, bune lelah sekali, karena pekerjaan yang begitu banyak dan rasanya menghabiskan energi.. Jadi begitu tiba di rumah, bune hanya ngobrol-ngobrol sebentar dengan paknemu,lalu tidur lelap..
Dalam mimpi dua malam lalu itu, bune melihat kita bertiga: diri bune sendiri,ada pakne, dan ade Laksmi di tengah, duduk di atas pangkuan pakne. Dalam mimpi itu, bune begitu terkejut sekaligus merasa aneh karena melihat diri bune sendiri di depan mata..
Ternyata kita bertiga sedang berfoto keluarga. Bune dengan jelas bisa melihat wajah ade Laksmi. Rambutmu sudah banyak ya, itu jabrik dan berdiri-berdiri seperti rambut pakne, pipimu juga putih dan tembem seperti pipi pakne. Ade Laksmi pakai baju merah, dan kaos kaki berenda.. tidak mau diam di pangkuan pakne, sehingga beberapa kali sang fotografer harus mengarahkan gaya.. Lalu bune mencoba membantu dengan mengayunkan mainan untuk memancing senyummu.. Bune dengan jelas mendengar, ade Laksmi mengoceh sederhana “wawawa” begitu kira-kira.. bunyi suara bayi terindah yang rasanya pernah bune dengar..
Lalu tiba-tiba bune terbangun, dan menangis.. tenang sayang, kali ini bukan tangis kesedihan, tetapi bune menangis saking bahagianya. Mengetahui ade Laksmi begitu sehat, begitu ceria dan begitu cantik. Malam itu, entah jam berapa, bune bangunkan pakne. “Aku mimpi ade Laksmi” begitu bune berujar. Pakne segera memeluk erat, dan menenangkan bune yang kala itu dibanjiri air mata.
Bune lalu teringat..waktu bune masih hamil dulu,kami berdua belum memikirkan nama untuk ade. Bune ingin, nama yang tidak panjang, sederhana, namun artinya dalam. Pada jaman bune sekarang banyak ibu-ibu yang memberikan nama yang cukup panjang untuk anak mereka, sampai-sampai neneknya tidak ingat. Jadi bune niatkan saja, maksimal dua kata.
Pakne lalu mengusulkan memberimu nama Kembang Langit. “Supaya seunik Banyu Biru dan Timur Angin” alasan paknemu. Awalnya bune mengiyakan, namun lama-lama bune merasa nama Kembang Langit terasa kurang pas, tidak memiliki arti yang mendalam. Jadilah, kami berdua menghapus nama itu dari kandidat namamu.
Suatu hari, pakne membawa dua kamus tebal bahasa Jawa untuk jadi inspirasi nama ade. Bune mencari-cari sekilas, membaca dari abjad A perlahan-lahan. Jatuh cintalah bune pada kata Anantya, artinya abadi. Arti yang bagus, pikir bune. Beberapa hari kemudian, bune mencari-cari nama lainnya, lalu tertumpulah ibu pada kata Laksmi, artinya kebahagiaan.
Lalu bune usulkan pada pakne, “Adik bayi kita beri nama Anantya Laksmi saja ya, artinya kebahagiaan yang abadi” Kelak bune ingin, dalam menjalani hidup, ade Laksmi selalu dipenuhi kebahagiaan, dan mengerti apa itu bahagia yang sesungguhnya. Nama yang indah kan? Meski mbah putri dari Bogor dan Batang sama-sama bingung “Nama panggilannya apa?” kata mereka..
Rupanya Tuhan Maha Baik ya, ia beri ade Laksmi kebahagiaan abadi yang sesungguhnya. Ade Laksmi diajak tinggal di Surga tanpa harus mengalami dunia yang seringkali tidak adil dan kejam, yang menawarkan beribu kepalsuan. Iya, bune yakin ade Laksmi tentu akan lebih bahagia di sisi Tuhan, ade akan lebih senang karena disana ade bisa meminta apaaaaaa saja yang ade inginkan..
Ade Laksmi sayang, titip bisikkan pada Tuhan, agar ade Laksmi segera dikaruniai adik lagi ya..agar bune tidak kesepian. Ade laksmi tidak perlu takut, karena bune tidak akan pernah lupa pada ade. Bahkan Bune selalu rindu, nanti datang lagi ya ke mimpi bune.. atau sesekali mampirlah ke mimpi pakne, ade bisa bercerita tentang indahnya surga, pakne juga pasti punya sejuta kisah untuk diceritakan.. dan ade akan setuju dengan bune, paknemu itu laki-laki istimewa
Bermainlah puas-puas sayang, karena surga menawarkan hujan kebahagiaan.. tidak pernah putus dan abadi.. Semoga kelak, bune dan pakne bisa bertemu Laksmi disana
Peluk dan cium sayang,
bune
Tuesday, July 24, 2007
Perjalanan Panjang
Saya sudah kembali dari perjalanan panjang, perjalanan yang menguji akal, menantang hati bahkan menuntut kekuatan raga saya.. rasanya seperti didorong pada batasnya. Batas-batas yang saya sendiri tidak pernah tau sampai dimana..
Ini bukan saja perjalanan waktu melainkan sebuah perjalanan perlawanan.. melawan rasa sakit akibat operasi dan infeksi yang membuat saya menjerit, menelan banyak obat, terbaring tak berdaya, juga memaksa saya berteman dengan jarum suntik dan infus.. Melahirkan trauma yang amat sangat.Pun melawan pikiran saya,memanipulasi segala jenis energi negatif sambil mengumpulkan kekuatan, agar hanya hal-hal baik yang berkamar di kepala saya..
Lajur perjalanan lainnya adalah rasa kehilangan.. sungguh tidak mudah, menerima kenyataan Laksmi sudah pergi, bahkan sebelum saya melihat sorot matanya, menyentuh pipinya, dan mencium wangi tubuhnya. Laksmi pergi, sebelum ia sempat berkenalan dengan pakne-nya. Laki-laki baik dengan hati seluas samudera, yang kelak akan mengajak dia menjelajahi alam raya dalam dongeng-dongeng sebelum tidur dan kisah-kisah yang menggugah hati.
Rasa kehilangan yang dahsyat sehingga mampu menusuk hati saya pada malam-malam saat bintang bertengger indah di langit dan bulan menggantung sempurna. Rasa kehilangan yang seringkali membuat saya tenggelam dalam bulir airmata dan berharap agar Laksmi sesekali singgah dalam mimpi saya hanya sekedar memuaskan rindu
Kemudian ada perjalanan memaafkan.. meredam rasa murka terhadap dokter yang menangani saya, meredam sumpah serapah dan deretan makian yang selalu siap keluar setiap saya melihat wajahnya. Juga memaafkan diri saya sendiri, yang sering berputar dalam andai-andai dan merasa belum cukup berjuang demi dia..
Lalu tiba saat untuk mengalami perjalanan menerima.. Menerima bahwa sekuat apapun saya mencoba, tidak akan ada sebuah jawaban yang mampu memuaskan pikiran saya sebagai manusia kecuali meyakini semua yang telah terjadi pada diri saya merupakan kuasa Tuhan. Mempercayai bahwa dengan menerima Laksmi akan lebih bahagia dan tenang, dengan menerima saya akan jauh dari lelah untuk mencari jawaban, dan dengan menerima saya dapat melangkah maju tanpa ragu..
Perjalanan menerima juga membawa saya kepada renungan-renungan panjang. Lalu menjelajahi diri, memutar ulang perjalanan hidup, sambil berdoa dalam bisikan-bisikan ampunan, dan bersyukur dalam ketakjuban. Kadang menangis, mengadu pada Tuhan, memohon peluk hangatNya, dan meminta Dia untuk selalu dekat dengan saya
Dan terbukalah mata saya akan sebuah perjalanan cinta, yang membuat saya tidak mau berkedip selain menikmatinya dengan sempurna.. Tidak pernah rasanya, cinta saya dan suami diuji sampai ke titik ini, dialah yang Tuhan kirimkan sebagai kekuatan saya. Tidak akan pernah saya lupakan, bagaimana ia selalu berusaha tersenyum untuk menyemangati saya sementara di saat yang sama di juga harus berjuang melawan rasa sedih. Memeluk saya di saat saya menangis tanpa banyak berkata apa-apa, meski kadang ia mengaduh sendirian.
dan tidak pernah rasanya, saya dihujani begitu banyak kasih sayang para sahabat. Yang datang dari berbagai penjuru kota, memberi semangat, membawakan cheesecake dan tiramisu kesukaan, membawakan setumpuk majalah sebagai hiburan atau sekedar melempar gurauan agar saya tertawa. Jiwa-jiwa hebat yang selalu ada meski jarak memisahkan, yang selalu terasa dekat meski waktu kerap tak memberi ruang untuk pertemuan.
Lalu, perjalanan cinta membawa saya kembali ke pelukan ibu saya. Merasakan kembali kehangatan keluarga, dan membuat saya sadar, apapun yang terjadi, inilah orang-orang yang tidak akan pernah meninggalkan saya. DI masa lalu sering kali saya berbenturan pendapat, atau tanpa sadar tidak lagi pulang untuk menjenguk dan bertukar kabar. Sekarang saya mengerti, kasih tanpa putus itu hanya perlu dibalas dengan mengalah dan pengertian, yang tentu saja hanya sedikit dibandingkan perjuangan panjang yang sudah mereka lakukan demi saya.
Ini memang perjalanan panjang, ada kalanya saya lelah, ingin berhenti sejenak,ada kalanya saya marah karena perjalanan yang saya lalui begitu berliku tajam..Namun saya sadar, setiap turunan membuat saya selalu waspada, setiap tikungan membuat saya lebih berhati-hati, dan setiap tanjakan akan membuat saya bertambah kuat..
Benar memang, Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup saya akan mudah, namun Tuhan berjanji, Dia akan mendampingi dan ada di dekat saya pada setiap detik, pada setiap sedih, dan pada saat-saat bahagia.. Saya mengerti, perjalanan ini belum sampai pada ujungnya, entah masih panjang, atau sesaat lagi..
Namun perjalanan ini telah menjadi sejarah, sebuah kisah yang tidak mungkin hilang dan terhapus, meski oleh waktu..
dan Anantya Laksmi akan selalu menjadi bidadari kecil saya, malaikat penjaga hidup dengan tempat istimewa di hati..
Saturday, June 09, 2007
jejak abadi
jejak itu tercipta
pada relung sembilan bulan dulu itu
pada gema degup jantung dan gerakan pertamamu
jejak itu terbentuk
kala musik mengalun
dan engkau menari di dalam sana
jejak itu membekas
kala kita saling bicara cinta
melalui tutur yang hanya kita merasainya
berdua saja
jejak itu ada
dan akan selalu ada
meski angin menawarkan hembusan baru
dan hujan menggoda dengan rasa berbeda
jejak itu meninggalkan palung-palung rindu
...abadi.. dan tak akan pernah pergi
(untuk keajaiban yang sejenak mampir: Anantya Laksmi. selamat jalan sayang, berbahagialah dengan sempurna)
Tuesday, May 01, 2007
Kekuatan
Ya Allah..
Maha pemilik hidup
berikan hambamu ini kekuatan
sebaik-baiknya kekuatan
untuk berjuang, bertemu buah hati pertamaku
untuk pertama kalinya di dunia
Maha pemilik hidup
berikan hambamu ini kekuatan
sebaik-baiknya kekuatan
untuk berjuang, bertemu buah hati pertamaku
untuk pertama kalinya di dunia
Tuesday, April 10, 2007
untuk pakne
Pakne, sudah setahun kita menikah
Rasanya seperti baru kemarin ya, kita berkenalan, saling sms, saling diskusi hingga tenggelam dalam persiapan pernikahan yang begitu mengasyikkan. Rasanya juga seperti baru kemarin, kata-kata akad itu diucapkan, perasaan haru yang begitu sangat dicampur rasa bahagia tak terhingga. Rasanya juga baru kemarin ya, kita cekakak-cekikik berdua, dan sekarang kita menanti adik bayi lahir ke dunia.
Pakne.. ini satu tahun yang menyenangkan..
Terima kasih yaa..
Masih bersedia mencuci baju saat hamil bune semakin besar
Tidak pernah mengeluh jika rumah petak kita berantakan
Tidak pernah protes jika bune ngomel-ngomel karena ayah terlalu banyak menonton film kartun
Dan selalu maklum jika bune ngambek karena hanya ingin disayang
Terima kasih yaa..
Untuk selalu memberikan kecupan hangat setiap pagi
dan bersedia bangun tengah malam, jika kaki bune tiba-tiba keram
atau berkutat sendiri di dapur hanya untuk memasak mie dan menggoreng telur
tanpa pernah memaksa bune untuk rutin memasak
Terima kasih yaa..
Karena tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil yang kadang terjadi
Selalu memberi ruang, agar bune tetap bahagia dengan berkumpul bersama teman lama
Atau menjadi teman diskusi yang asyik tentang berbagai hal tanpa menghakimi
Terima kasih yaa..
Sudah memperkenalkan bune pada indahnya memiliki mimpi besar
Mengajari bune untuk selalu semangat dan bersabar
Dan membimbing bune untuk selalu tangguh menghadapi kesulitan
Meski setahun kemarin hanya kita nikmati dengan indomie rebus dan foto-foto bersama..
Meski setahun kemarin diwarnai dengan hal-hal yang menguras emosi kita
Bune bahagia..
Dan berharap cinta itu akan selalu ada
Seperti Cinta Nagabonar pada sang Kirana.. hehehe
Rasanya seperti baru kemarin ya, kita berkenalan, saling sms, saling diskusi hingga tenggelam dalam persiapan pernikahan yang begitu mengasyikkan. Rasanya juga seperti baru kemarin, kata-kata akad itu diucapkan, perasaan haru yang begitu sangat dicampur rasa bahagia tak terhingga. Rasanya juga baru kemarin ya, kita cekakak-cekikik berdua, dan sekarang kita menanti adik bayi lahir ke dunia.
Pakne.. ini satu tahun yang menyenangkan..
Terima kasih yaa..
Masih bersedia mencuci baju saat hamil bune semakin besar
Tidak pernah mengeluh jika rumah petak kita berantakan
Tidak pernah protes jika bune ngomel-ngomel karena ayah terlalu banyak menonton film kartun
Dan selalu maklum jika bune ngambek karena hanya ingin disayang
Terima kasih yaa..
Untuk selalu memberikan kecupan hangat setiap pagi
dan bersedia bangun tengah malam, jika kaki bune tiba-tiba keram
atau berkutat sendiri di dapur hanya untuk memasak mie dan menggoreng telur
tanpa pernah memaksa bune untuk rutin memasak
Terima kasih yaa..
Karena tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil yang kadang terjadi
Selalu memberi ruang, agar bune tetap bahagia dengan berkumpul bersama teman lama
Atau menjadi teman diskusi yang asyik tentang berbagai hal tanpa menghakimi
Terima kasih yaa..
Sudah memperkenalkan bune pada indahnya memiliki mimpi besar
Mengajari bune untuk selalu semangat dan bersabar
Dan membimbing bune untuk selalu tangguh menghadapi kesulitan
Meski setahun kemarin hanya kita nikmati dengan indomie rebus dan foto-foto bersama..
Meski setahun kemarin diwarnai dengan hal-hal yang menguras emosi kita
Bune bahagia..
Dan berharap cinta itu akan selalu ada
Seperti Cinta Nagabonar pada sang Kirana.. hehehe
Sunday, April 08, 2007
Wednesday, March 28, 2007
Keajaiban Es Krim
Okey, in sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan. Berat saya sudah naik 18 kg, sudah semakin gendut. Kenaikan berat badan secara gila-gilaan itu sempat membuat saya stres, bukan karena saya takut gendut (hei ini kan orang hamil.. masa kebebasan untuk makan apapun), tapi karena berat badan adik bayi di dalam perut sempat kurang. Iya siiih, hanya beberapa gram saja, dan dokter juga menyatakan tidak mengkhawatirkan..
Tapi kok saya merasa egois ya, karena semua makanan yang saya makan, larinya ke saya semua, sementara adik bayi seolah tidak kebagian. Padahal saya tidak mengalami kesulitan makan apapun sejak kehamilan awal bulan, tidak mual, tidak muntah.. semua makanan masuk dengan sukses ke dalam perut saya. Kok adik bayi tidak besar-besar?.
Dokter sempat melakukan pengecekan kadar kekentalan darah saya. Karena kata dia, kalau darahnya terlalu kental, maka yang masuk ke Plasenta biasanya juga sedikit. Tapi hasil pengecekan juga normal. Oooh, mungkin pola makan saya yang salah. Mulailah saya mengurangi sedikit nasi, dan banyak makan lauk pauk. Tapi nggak berefek juga, berat saya tetap naik gila-gilaan, berat adik bayi naik sangat perlahan
Akhirnya, bertanyalah saya kesana kemari. Banyak orang menyarankan makan es krim. Setengah tak percaya, saya coba saja. Dua minggu lalu, saya rajin sekali makan es krim. Di freezer kulkas, saya simpan es krim Walls satu liter, sebagai cadangan kalau saya tiba-tiba ingin makan es. Enaknya, di kantor saya bisa makan es krim gratis. Jadilah saya rajin menyambangi lantai dua, untuk mencoba berbagi es krim..
Hmmm, memang enaaaakkk.. Conello rasa black forest atau strawberry, paddle pop shake, dan magnum rasa almond.. yummy!saya tidak peduli kalau berat saya terus naik, saya ingin membuktikan kalau resep makan es krim itu manjur. Beberapa orang juga menyarankan supaya saya makan coklat, Jadi tidak hanya es krim, saya juga rajin menyantap coklat hehehe..
Ternyataaa... setelah dua minggu, berat bayi saya naik drastis.. sebanyak 400 gram, jadi sekarang beratnya sudah 2,3 kg. Wuah saya senang bukan main, ternyata berhasil juga usaha saya menaikkan berat adik bayi. Saya juga jadi makin rajin menyambangi lantai dua, kadang teman-teman juga nitip minta diambilkan hehehe.. es krim, es krim, makanan enak penuh manfaat.. hehehe
Sampai teman saya bilang begini “wah baru sekali ini, ada orang yang kegirangan beratnya naik karena makan es krim..”hehehe. Hidup ES KRIM!
Tapi kok saya merasa egois ya, karena semua makanan yang saya makan, larinya ke saya semua, sementara adik bayi seolah tidak kebagian. Padahal saya tidak mengalami kesulitan makan apapun sejak kehamilan awal bulan, tidak mual, tidak muntah.. semua makanan masuk dengan sukses ke dalam perut saya. Kok adik bayi tidak besar-besar?.
Dokter sempat melakukan pengecekan kadar kekentalan darah saya. Karena kata dia, kalau darahnya terlalu kental, maka yang masuk ke Plasenta biasanya juga sedikit. Tapi hasil pengecekan juga normal. Oooh, mungkin pola makan saya yang salah. Mulailah saya mengurangi sedikit nasi, dan banyak makan lauk pauk. Tapi nggak berefek juga, berat saya tetap naik gila-gilaan, berat adik bayi naik sangat perlahan
Akhirnya, bertanyalah saya kesana kemari. Banyak orang menyarankan makan es krim. Setengah tak percaya, saya coba saja. Dua minggu lalu, saya rajin sekali makan es krim. Di freezer kulkas, saya simpan es krim Walls satu liter, sebagai cadangan kalau saya tiba-tiba ingin makan es. Enaknya, di kantor saya bisa makan es krim gratis. Jadilah saya rajin menyambangi lantai dua, untuk mencoba berbagi es krim..
Hmmm, memang enaaaakkk.. Conello rasa black forest atau strawberry, paddle pop shake, dan magnum rasa almond.. yummy!saya tidak peduli kalau berat saya terus naik, saya ingin membuktikan kalau resep makan es krim itu manjur. Beberapa orang juga menyarankan supaya saya makan coklat, Jadi tidak hanya es krim, saya juga rajin menyantap coklat hehehe..
Ternyataaa... setelah dua minggu, berat bayi saya naik drastis.. sebanyak 400 gram, jadi sekarang beratnya sudah 2,3 kg. Wuah saya senang bukan main, ternyata berhasil juga usaha saya menaikkan berat adik bayi. Saya juga jadi makin rajin menyambangi lantai dua, kadang teman-teman juga nitip minta diambilkan hehehe.. es krim, es krim, makanan enak penuh manfaat.. hehehe
Sampai teman saya bilang begini “wah baru sekali ini, ada orang yang kegirangan beratnya naik karena makan es krim..”hehehe. Hidup ES KRIM!
Wednesday, March 14, 2007
Renon dan diskriminasi
Namanya Renon. Pangeran Renon. Motor Mega Pro berwarna biru ini sudah menjadi teman sehari-hari bagi saya dan suami mengarungi jalanan. Bahkan mulai semenjak pacaran dulu, renonlah yang setia mengantar kami pergi ke penjuru kota Jakarta. Mulai menikmati air mancur menari di Monas, makan makanan padang di Senen, ataupun sekedar putar-putar di Blok M.
Renon juga kami ajak menempuh hujan, kadang menembus debu dan badannya kadang tergores roda koper, kalau saya terlalu banyak membawa jinjingan saat harus ke luar kota. Renon teruji gesit diajak meliuk-liuk melewati deretan mobil saat macet. Renon juga yang dulu setia membawa kami berdua pulang pergi ke Bogor, sampai perannya tergantikan karena bapak saya tidak tega membiarkan anaknya yang sedang hamil ini harus naik motor ke bogor, sehingga berbaik hati menjemput saya setiap akhir minggu.
Namun, di Jakarta ini, Renon kesayangan kami seringkali mengalami diskriminasi. Dianggap kendaraan kelas dua, diperlakukan seperti seperti kendaraan sampah, dan tidak mendapatkan pelayanan yang cukup. Padahal seperti band Seriues bilang “Motor bagai manusia”, tapi sayangnya sering diperlakukan tidak layak.
Seperti kemarin misalnya, ketika saya harus menghadiri seminar di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Renon kesulitan mendapatkan parkiran. Jangankan parkir, moncongnya baru akan mendekati hotel untuk bertanya saja, semua mata satpam langsung memandang penuh larangan. Belum lagi ditanya ini itu, untuk apa tujuan datang ke hotel. Segera saya tunjukkan undangan seminar yang akan saya hadiri. Setengah malas, akhirnya satpam itu mempersilahkan Renon dan suami saya parkir di basement. Aneh kan, memangnya semua orang yang datang ke hotel harus mengendarai mobil ya? Dan untuk apa pula tidak ada angin dan hujan datang ke hotel tersebut....
Kisah lain juga dialami Renon dan suami saya, ketika menunggu saya selesai menghadiri acara kantor di Hotel Four Season. Parkir di depan jalanan hotel sebentar saja, para petugas keamanan rasanya seperti kegerahan. Mengusir Renon dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan. Beruntung, suami tidak bergeming.
Bandingkan jika saya datang dengan mobil menuju hotel. Sampai di depan lobby hotel, pintu dibukakan oleh petugas hotel dengan senyum ramah. Mengucapkan selamat datang dan menawarkan membantu membawa barang. Tak tahulah dia, mobil yang saya tumpangi hanya mobil milik kantor.
Tidak hanya itu,diskriminasi Renon juga terjadi saat kami mengunjungi mal-mal maupun pusat perbelanjaan. Tempat parkir motor biasanya diletakkan jauuuuuh dari gedung, sehingga kami terpaksa berjalan sambil menenteng belanjaan yang kadang-kadang lumayan banyak. Tidak ada keistimewaan bisa menjemput di depan lobby.
Sungguh, kadang kesal sekali diperlakukan seperti itu...
Renon juga kami ajak menempuh hujan, kadang menembus debu dan badannya kadang tergores roda koper, kalau saya terlalu banyak membawa jinjingan saat harus ke luar kota. Renon teruji gesit diajak meliuk-liuk melewati deretan mobil saat macet. Renon juga yang dulu setia membawa kami berdua pulang pergi ke Bogor, sampai perannya tergantikan karena bapak saya tidak tega membiarkan anaknya yang sedang hamil ini harus naik motor ke bogor, sehingga berbaik hati menjemput saya setiap akhir minggu.
Namun, di Jakarta ini, Renon kesayangan kami seringkali mengalami diskriminasi. Dianggap kendaraan kelas dua, diperlakukan seperti seperti kendaraan sampah, dan tidak mendapatkan pelayanan yang cukup. Padahal seperti band Seriues bilang “Motor bagai manusia”, tapi sayangnya sering diperlakukan tidak layak.
Seperti kemarin misalnya, ketika saya harus menghadiri seminar di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Renon kesulitan mendapatkan parkiran. Jangankan parkir, moncongnya baru akan mendekati hotel untuk bertanya saja, semua mata satpam langsung memandang penuh larangan. Belum lagi ditanya ini itu, untuk apa tujuan datang ke hotel. Segera saya tunjukkan undangan seminar yang akan saya hadiri. Setengah malas, akhirnya satpam itu mempersilahkan Renon dan suami saya parkir di basement. Aneh kan, memangnya semua orang yang datang ke hotel harus mengendarai mobil ya? Dan untuk apa pula tidak ada angin dan hujan datang ke hotel tersebut....
Kisah lain juga dialami Renon dan suami saya, ketika menunggu saya selesai menghadiri acara kantor di Hotel Four Season. Parkir di depan jalanan hotel sebentar saja, para petugas keamanan rasanya seperti kegerahan. Mengusir Renon dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan. Beruntung, suami tidak bergeming.
Bandingkan jika saya datang dengan mobil menuju hotel. Sampai di depan lobby hotel, pintu dibukakan oleh petugas hotel dengan senyum ramah. Mengucapkan selamat datang dan menawarkan membantu membawa barang. Tak tahulah dia, mobil yang saya tumpangi hanya mobil milik kantor.
Tidak hanya itu,diskriminasi Renon juga terjadi saat kami mengunjungi mal-mal maupun pusat perbelanjaan. Tempat parkir motor biasanya diletakkan jauuuuuh dari gedung, sehingga kami terpaksa berjalan sambil menenteng belanjaan yang kadang-kadang lumayan banyak. Tidak ada keistimewaan bisa menjemput di depan lobby.
Sungguh, kadang kesal sekali diperlakukan seperti itu...
Sunday, February 25, 2007
Kelak..
Nak,kelak kita akan belajar bersama...
Engkau akan belajar, mengenal berbagai hal baru yang pertama kali engkau lihat dengan matamu yang binar, dan aku, ibumu, juga akan belajar meminggirkan semua lelah demi menjawab dengan baik semua tanyamu mengenai isi bumi ini
Engkau akan belajar, bagaimana berjalan di atas dua kakimu, tertatih, jatuh, dan bangun lagi.. yang sesungguhnya mengajarkan padamu, untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai apapun yang engkau inginkan di dunia ini. Dan aku, ibumu, juga akan belajar untuk meluangkan waktu di tengah-tengah pekerjaan yang menghimpit waktuku, untuk bermain bersama agar engkau lebih sering tertawa
Engkau akan belajar mengenal huruf dan angka. Melafalkannya menjadi bacaan, menuliskannya dalam cerita dan kisah indah. Kata teman ibu, itulah nanti caramu menyerap energi dunia. Dan aku, ibumu akan belajar, menyiapkan energi lebih banyak, hanya untuk membacakan cerita padamu sebelum dirimu terlelap tidur. Agar engkau berani berimajinasi, bermimpi tinggi-tinggi
Engkau akan belajar menyayangi sekitarmu, mengenal apa itu ketulusan hati, dan berbuat baik tanpa pamrih. Dan aku ibumu juga akan belajar, mengurangi keluhan,berusaha memaafkan, bahwa setiap langkah salahmu adalah sesungguhnya proses belajarmu..
Engkau akan tumbuh.. dari gadis kecil menjadi remaja dewasa. Kau akan belajar mengenal kerasnya dunia, dan sesungguhnya setiap tangis matamu akan membuatmu bertambah kuat. Dan aku, ibumu, juga akan belajar menjadi sahabatmu, membaca ini itu karena nanti masamu dan masaku tidak akan lagi sama
Engkau akan belajar berani, dan berani belajar., mengambil resiko dan berani gagal. Percayalah nak, kegagalan akan menjadi guru ampuh dalam hidupmu. Dan aku, ibumu, juga akan belajar mempercayai setiap pilihan penting dalam hidupmu...
Nak, aku, ibumu bersama ayahmu akan bersama menyaksikan, bagaimana potongan-potongan diri kamu menjadi satu dalam tubuhmu. Setengah milik ayah, dan setengah milik ibu.Semoga hanya kebaikan yang mengalir dalam darahmu. Jangan contoh sikap ibu yang kadang buruk, maupun kebiasaan ayah yang kadang menyebalkan. Tumbuhlah menjadi kuat, nikmatilah indahnya dunia, berproseslah dengan sempurna. Menahapi setiap tangga kehidupan.
Nak, sesungguhnya melalui dirimu, aku, ibumu yakin berbagai keajaiban akan terjadi. Berbagai kisah indah akan mengalir. Apapun yang terjadi, kau akan selalu menemukan surga diantara pelukan-pelukan hangatku...
Engkau akan belajar, mengenal berbagai hal baru yang pertama kali engkau lihat dengan matamu yang binar, dan aku, ibumu, juga akan belajar meminggirkan semua lelah demi menjawab dengan baik semua tanyamu mengenai isi bumi ini
Engkau akan belajar, bagaimana berjalan di atas dua kakimu, tertatih, jatuh, dan bangun lagi.. yang sesungguhnya mengajarkan padamu, untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai apapun yang engkau inginkan di dunia ini. Dan aku, ibumu, juga akan belajar untuk meluangkan waktu di tengah-tengah pekerjaan yang menghimpit waktuku, untuk bermain bersama agar engkau lebih sering tertawa
Engkau akan belajar mengenal huruf dan angka. Melafalkannya menjadi bacaan, menuliskannya dalam cerita dan kisah indah. Kata teman ibu, itulah nanti caramu menyerap energi dunia. Dan aku, ibumu akan belajar, menyiapkan energi lebih banyak, hanya untuk membacakan cerita padamu sebelum dirimu terlelap tidur. Agar engkau berani berimajinasi, bermimpi tinggi-tinggi
Engkau akan belajar menyayangi sekitarmu, mengenal apa itu ketulusan hati, dan berbuat baik tanpa pamrih. Dan aku ibumu juga akan belajar, mengurangi keluhan,berusaha memaafkan, bahwa setiap langkah salahmu adalah sesungguhnya proses belajarmu..
Engkau akan tumbuh.. dari gadis kecil menjadi remaja dewasa. Kau akan belajar mengenal kerasnya dunia, dan sesungguhnya setiap tangis matamu akan membuatmu bertambah kuat. Dan aku, ibumu, juga akan belajar menjadi sahabatmu, membaca ini itu karena nanti masamu dan masaku tidak akan lagi sama
Engkau akan belajar berani, dan berani belajar., mengambil resiko dan berani gagal. Percayalah nak, kegagalan akan menjadi guru ampuh dalam hidupmu. Dan aku, ibumu, juga akan belajar mempercayai setiap pilihan penting dalam hidupmu...
Nak, aku, ibumu bersama ayahmu akan bersama menyaksikan, bagaimana potongan-potongan diri kamu menjadi satu dalam tubuhmu. Setengah milik ayah, dan setengah milik ibu.Semoga hanya kebaikan yang mengalir dalam darahmu. Jangan contoh sikap ibu yang kadang buruk, maupun kebiasaan ayah yang kadang menyebalkan. Tumbuhlah menjadi kuat, nikmatilah indahnya dunia, berproseslah dengan sempurna. Menahapi setiap tangga kehidupan.
Nak, sesungguhnya melalui dirimu, aku, ibumu yakin berbagai keajaiban akan terjadi. Berbagai kisah indah akan mengalir. Apapun yang terjadi, kau akan selalu menemukan surga diantara pelukan-pelukan hangatku...
Thursday, February 22, 2007
Mental Break Session
Semua hal butuh istirahat. Bahkan matahari terlelap saat malam dan sang bulan bertugas terjaga menerangi bumi. Bahkan pada setiap kalimat-kalimat panjang, kita perlu berjeda, untuk sekedar menghela nafas.
Saya percaya setiap orang memiliki momen favorit hanya untuk sekedar mengistirahatkan otak yang seharian keras berfikir, menyandarkan badan yang jungkir balik menghidupi diri, dan memberi ruang pada hati untuk sejenak menghirup aura-aura suci.
Kita perlu beristirahat. Saat dimana kita keluar sejenak untuk keluar dari zona sibuk dan rumit. Menyepi, meminggir tanpa perlu keras berfikir. Menikmati kebahagiaan seadanya, lepas dari label pekerjaan, istri, dan si anu maupun si itu. Berbahagia dengan seadanya, untuk diri saya sendiri.
Ada banyak cara yang saya lakukan untuk memberi badan, pikiran, dan hati saya untuk istirahat. Jika energi sedang cukup banyak, saya sungguh menikmati bebersih rumah. Menata kembali perabotan yang berantakan, rasanya sama dengan menata file-file di kepala saya. Sehingga ketika usai bebenah, hati saya terasa lebih damai, dan siap memulai hari yang baru.
Di kantor, saya punya sesi book club favorit. Sambil membahas buku yang sama-sama kita baca, setiap orang dalam club bebas mengeluarkan pandangan pribadinya, berceloteh tentang pengalaman hidupnya. Dipandu oleh fasilitator yang handal, kami semua diajak meneropong pengalaman hidup dari cara yang positif, dan menguatkan nilai-nilai hidup yang sudah kita pegang.
Sesi ini selalu berhasil memompa semangat saya. Mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan tidak menjalani hidup apa adanya. Pun membantu saya memaknai setiap kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Saya cinta book club ini.
Momen istirahat favorit saya yang lain adalah, saat punya kesempatan bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Berbincang mengenai hidup, bertukar pikiran mengenai apapun, jujur terhadap keadaan masing-masing hingga berujung pada kehebatan kami mentertawai kebodohan diri sendiri.
Ya.. sahabat-sahabat saya, meski tidak intens bertemu, kami selalu merasa dekat, walau hanya dengan update beberapa jam saja. Hanya disertai beberapa gelas kopi maupun coklat favorit. Pertemuan dengan sahabat selalu membuat saya rindu.
Beristirahat, apapun bentuknya perlu diluangkan. Setidaknya membantu saya bahagia dengan sederhana, dengan diri saya apa adanya.
Monday, February 19, 2007
Berkenalan dengan Pram
Pramoedya Ananta Toer. Nama penulis besar, yang hingga selama 25 tahun saya hidup belum pernah satu pun karyanya say abaca. Yang hingga sang penulis wafat belum pernah saya menjamah buku-buku tulisannya. Alasan sederhana: malas, karena bukunya tebal-tebal dan temanya tampak begitu serius.
Si pram ini sudah banyak dibincangkan orang, berkali-kali menjadi nominasi untuk meraih nobel sastra. Banyak orang mengaku terinspirasi akan tulisannya. Tapi saya tak juga bergeming, bahkan rasa penasaran pun tidak ada. Sekian banyak orang merekomendasikan, bahkan setengah berbangga. Seolah membaca karya Pram sudah menjadikan mereka orang besar, menjadikan mereka lebih berarti, dan membuat tampilan mereka lebih berbobot.
Saya ingat suatu kali, ketika hendak mengikuti seleksi menjadi reporter salah satu televisi swasta. Salah satu pertanyaannya adalah saya diminta menyebutkan judul-judul buku karya Pram. Kalau hanya judul buku sih saya tau, tapi ingin tertawa geli saat sang produser menjelaskan, pertanyaan itu dimunculkan karena menurut mereka orang-orang yang membaca karya Pram tentulah memiliki kualitas otak yang lebih baik. Sungguh aneh.
Lalu beberapa bulan lalu, suami saya membelikan seri buku pertama dari tetralogi Pram yang terkenal. Bumi Manusia. ”Bacalah,kamu akan tenggelam bersamanya,” kata dia. Oke, akhirnya saya ”terpaksa” berkenalan dengan karya Pram. Sekarang saya sudah bisa penasaran, bagaimana sesungguhnya buku yang menurut banyak orang menarik ini? Dari segi mana menariknya? Bahasa tuturnya kah? Jalan ceritanya? Atau apa?
Saya sendiri menyenangi buku-buku yang menyajikan pengalaman baru bagi indra saya. Saya menyukai ending cerita yang sukar ditebak, menyukai deskripsi yang metafora, menyukai penokohan yang aneh, dan menikmati cerita petualangan.
Lalu mulailah saya berkelana dalam Bumi Manusia. Duh, melewati halaman-halaman pertama rasanya suliiiit sekali. Buku itu belum berhasil membawa saya ketagihan, belum mampu memanggil saya ketika saya tidak ada kerjaan. Beranda buku itu belum berhasil membuat saya duduk nyaman. Ketika suami saya tanya ”Buku itu sudah berhasil menarikmu tenggelam?” saya hanya menggeleng sambil meringis.
Lalu, seminggu lalu, ketika saya terpaksa harus tinggal di rumah karena flu berat, saya akhirnya membaca buku itu. Selembar,lalu satu bab, tanpa sadar sudah setengah buku. Saya mulai tenggelam, saat Nyai Ontosoroh menerawang bertutur kembali tentang masa lalunya.
Setelah itu, rangkaian cerita seolah tampak semakin menarik, semakin misterius.
Saya menyukainya. Mengagumi deskripsi Pram tentang bagaimana setiap orang seharusnya merdeka. Tenggelam dalam alur cerita bertuturnya yang begitu mendalam. Dialog-dialog perdebatan yang seru, maupun penggambaran masa lalu yang begitu detail.Saya banyak menemukan kutipan menarik dari buku itu. Tentang cinta, tentang manusia, dan tentang hidup.
Harus saya akui, meskipun belum jatuh cinta, Bumi Manusia telah membawa pengalaman baru bagi indra saya. Sst saya belum selesai membacanya.. penasaran dengan endingnya nih..
Monday, January 22, 2007
merayakan hidup dengan lebih baik
tahun ini,
saya ingin lebih banyak mencoba setiap rasa yang ditawarkan oleh kehidupan
tanpa pagar di kepala, tanpa ekspektasi berlebih
mengikuti laju hidup dengan alami
saya juga ingin meresapi lebih dalam
menyentuh lebih banyak hati
berusaha membuat setiap hari berarti
saya juga tidak akan lelah belajar bermimpi
dan menjejaki tahap demi tahap
berusaha melawan kemalasan yang sangat
tahun ini
saya hanya ingin merayakan hidup dengan lebih baik
apapun keadaannya
saya ingin lebih banyak mencoba setiap rasa yang ditawarkan oleh kehidupan
tanpa pagar di kepala, tanpa ekspektasi berlebih
mengikuti laju hidup dengan alami
saya juga ingin meresapi lebih dalam
menyentuh lebih banyak hati
berusaha membuat setiap hari berarti
saya juga tidak akan lelah belajar bermimpi
dan menjejaki tahap demi tahap
berusaha melawan kemalasan yang sangat
tahun ini
saya hanya ingin merayakan hidup dengan lebih baik
apapun keadaannya
Friday, January 19, 2007
Perjumpaan setiap bulan yang menakjubkan
Sejak Juli lalu, setiap bulan saya selalu menantikan perjumpaan ini. Melihat dirinya hanya dari layar mini. Bertransformasi dengan menakjubkan. Mulai berbentuk lingkaran kecil, memanjang, hingga tulang tubuhnya mulai terlihat jelas. Rasanya jika bisa setiap hari memandangnya, meski hanya dalam wujud dua dimensi saja, tentu mampu menghapuskan kekesalan sehari-hari
Seharusnya saya bercerita ini sejak dulu. Sejak Tuhan mempercayakan adik bayi hidup dalam janin saya. Sejak saat itu, banyak momen menakjubkan terjadi, seolah dia memang lahir untuk membuat saya lagi-lagi percaya: keajaiban itu ada!
Sekarang sudah memasuki usia 6 bulan. Setiap bulan saya memang tak sabar. Rasanya kok terlalu lama, menengok dia dalam perut saya. Setiap ke dokter, alat USG selalu ditempelkan, dan dari layar seukuran televisi, saya bisa melihat siluetnya.
Bulan pertama dan kedua memang belum terlihat bentuknya. Hanya kedip-kedip jantungnya saja yang tampak di layar monitor USG. Bulan ketiga dan keempat, bentuknya sudah semakin terlihat, dia sudah memiliki tangan dan kaki. Dokter pun mulai menggunakan alat untuk mendengarkan denyut jantung adik bayi. Degupannya begitu kencang, dua kali detak jantung manusia dewasa.
Pengalaman seru terjadi ketika saya kontrol usia kandungan 5 bulan. DI layar, tampak badannya bergoyang-goyang. Rupanya dia sedang cekukan, tak lama, dia memasukkan jari tangannya ke mulut lalu badannya memutar, sehingga saya hanya bisa melihat siluet kepalanya. Saya tertawa-tawa bahagia, kok bisa ya semua terjadi di dalam perut saya? Subhanallah..
Kehamilan saya, alhamdulilah begitu dimudahkan Tuhan. Tidak ada morning sick, tidak ada muntah-muntah, hanya mual-mual sedikit yang semakin menjadi-jadi ketika saya kelaparan hehehe. Saya juga tidak ngidam, rasanya semua makanan cocok di lidah. Nafsu makan saya pun pada masa awal kehamilan luar biasa naik. Makan sebanyak apapun, sepertinya masih saja kurang.
Saya percaya, kondisi kehamilan ditentukan oleh pikiran. Jadi dari awal saya yakin kehamilan ini akan mudah, saya tidak biasa memanjakan diri. Bekerja seperti biasa, bahkan tetap terbang ke luar kota.
Setiap kali saya berdoa, semoga Allah meridhoi kelahirannya ke dunia dengan kesehatan, mengkaruniai adik bayi dengan kecerdasan, kesolehan, dan budi pekerti yang baik.
Mulai sekarang saya akan lebih sering berbagi cerita, rasanya sayang jika pengalaman menakjubkan ini disimpan sendiri dalam hati. Kelak, saya akan membaca halaman-halaman ini bersama dia.
Lalu tertawa bahagia bersama..
Doakan saya ya..
Sunday, October 29, 2006
Percaya nggak percaya
Saya bukan orang yang mudah percaya pada takhayul, tetapi selalu antusias mendengarkan berbagai kisah yang menyangkut hal-hal misterius, yang kadang tidak bisa diterima dengan akal logika. Dibesarkan dalam keluarga Jawa dan hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda, saya tentu saja mendengar berbagai kisah aneh-aneh, dan berbagai larangan yang disampaikan oleh orang orang tua di sekitar saya.
Misalnya saja, tidak boleh memukul dengan sapu lidi, karena ditakutkan akan memiliki banyak anak sejumlah lidi yang ada. (Dulu saya percaya, lalu lama-lama mikir juga, banyak anak atau tidak itu kan tergantung kita sendiri?). Lalu tidak boleh duduk di pintu jendela, nanti jauh jodoh. (Padahal duduk di pintu jendela tentu mengganggu orang yang lalu lalang dalam rumah). Atau, anak perempuan harus menyapu sampai bersih, jika tidak dia akan memperoleh suami yang penuh brewok. (Tentu saja menyapu harus bersih, agar kotorannya tidak berterbangan kemana-mana). Entah darimana asal-usul berbagai takhayul seperti itu, tetapi selalu seru membicarakan hal-hal yang orang Sunda menyebutnya “pamali”.
Seperti kemarin ketika saya pulang ke Bogor. Di dapur, sambil memasak, berkumpulah kami para perempuan dari berbagai generasi. Ada saya yang sedang hamil 3 bulan, ada ibu saya, dan ada nenek saya. Lalu ada si bibi, wanita asli Sunda yang hampir setiap hari membantu ibu saya bersih-bersih rumah.
Lalu mulailah berbagai kisah dan pantangan untuk orang yang sedang hamil. Beberapa yang disampaikan si bibi, saya akui, membuat saya terbelalak tak percaya sambil menahan geli. Bibi bilang, orang hamil tidak boleh makan menggunakan piring lebar. “Nanti muka anaknya lebar,” (heh? Apa hubungannya ya). Lalu dia bilang, kalau mandi tidak boleh melilitkan handuk di leher. Apa pasal? “Nanti bayinya dalam perut terlilit usus,”. Lalu, setiap melihat hal yang buruk-buruk saya dianjurkan mengusap perut, sambil berdoa agar tidak terjadi pada bayi saya. “Soalnya neng, kalau orang hamil, suka lihat yang aneh-aneh. Jadi gak boleh sembarangan” Bibi juga memberikan tips jitu, menurut dia saat melahirkan nanti sebaiknya pantat saya tidak diangkat, supya tenaga saat mengejan bisa lebih maksimal, dan tidak perlu dijahit. “Anak bibi empat, dan semuanya gak pake dijait neng”.
Bibi juga bertutur, menjelang melahirkan dia minum minyak kelapa, agar jalan melahirkan menjadi licin. Tak lupa, air kelapa muda hijau agar kulit bayi bersih dan bersinar. Saya yang kaget dengan begitu banyak pantangan, hanya bisa berujar “Masa sih?”
Ibu saya lalu menambahkan, orang hamil tidak boleh merendam pakaian, nanti ditakutkan air ketubannya berlebih sehingga kandungan saya kembar air. Sementara nenek saya menyampaikan pantangan makanan, agar bayi saya sehat. Kata si mbah, jangan makan buah kweni, duren, nanas, dan nangka. Buah-buah tersebut dipercaya memberikan efek panas di perut. Dia juga menganjurkan mengurangi minum es, karena akan membuat sang jabang bayi ukurannya besar.
Duh..duh banyak sekali hal yang harus diperhatikan. Antara percaya dan tidak, antara takut dan heran. Namun, yang pasti saya percaya ketika nenek saya bertutur “Setelah melahirkan, nanti kamu akan merasakan, betapa perjuangan seorang ibu begitu berat. Nanti pasti kamu tambah sayang sama mama. Nah, laki-laki tidak mungkin pernah merasakan hal seperti itu,”
Iya memang, ini pengalaman istimewa. Saya menikmatinya setiap hari, menjaga dengan baik janin kecil yang tumbuh dalam diri saya. Dengan berbagai pantangan maupun tidak.. yang penting ia lahir sehat...
Thursday, October 26, 2006
Lebaran yang sarat rindu
Lebaran kali ini tidak saya habiskan bersama mama, bapak, dan adik di Bogor. Saya berlebaran di tanah kelahiran suami saya di Batang, Jawa Tengah. Berkumpul dengan keluarga kecil yang baru, dengan suasana yang tentu saja berbeda.
Sejak SMP, saya terbiasa mandiri. Saya pernah berbulan-bulan tinggal di kamar kos milik orang tua saya, padahal letaknya hanya di belakang rumah. Bapak bilang, supaya saya bisa bertanggung jawab dan latihan mengurus diri sendiri. Tak heran, ketika harus ngekos saat kuliah di Bandung, orangtua saya tenang-tenang saja. Jarang telpon kecuali ada keperluan penting, jarang menjemput kecuali saya sakit, dan jarang sengaja menengok, kecuali dengan kebetulan mereka lewat.
Sebaliknya, saya juga jarang pulang. Banyak waktu tersita oleh kegiatan kemahasiswaan maupun tugas kuliah yang berjibun. Mungkin satu bulan sekali saya pulang ke Bogor, itu pun kalau ibu saya sudah sms “Kapan pulang mbak?”. Itu artinya beliau sudah rindu dengan putri sulungnya ini.
Hubungan saya dan adik saya semasa kuliah juga sedikit merenggang. Dia asyik dengan band dan aktivitasnya, sehingga ketika saya pulang ke Bogor, seringkali bentrok dengan jadwalnya yang padat. Kami hanya bertegur sapa saat pagi hari. Tidak sempat berkeliling kota, tidak ada waktu untuk saling cerita.
Pendek kata, saya cuek. Jarang mengukir momen indah bersama keluarga, pun jarang merasa rindu untuk pulang.
Tapi lebaran kali ini semua rasanya berbeda..
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya saya begitu rindu rumah, rindu mama, bapak, dan adik saya. Berkali-kali saya sms mama, hanya sekedar ucap kangen. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.
Saat takbir menggema dan acara sungkeman dengan mertua tiba. Tangis saya pun pecah. Saya rindu mama, rindu membuat kue bersama hingga dini hari. Kalau waktu kecil saya hanya membantu menimbang dan mengocok telur, sejak SMA saya sudah bisa membuat kue sendiri. Ada kastengels, kue havermut kacang mede, dan kue cornflake kesukaan kami. Saat saya membuat kue, mama biasanya sibuk di dapur memasak rendang, opor ayam, dan sayur kentang yang rasanya luar biasa. Kali ini mama memilih membuat kue bersama teman-teman kantornya. “Di kantor ada oven besar” ujarnya.
Saya juga kangen Bapak. Kangen dengan keributannya saat membuat ketupat. Bapaklah yang selalu kebagian tugas membuat ketupat. Ia memilih memasak ketupat di atas tungku tradisional, dengan dua batu besar dan kayu bakar, daripada matang di atas kompor gas. “Rasanya beda,” . Aku, bapak, dan adik biasanya mengisi ketupat dengan beras yang sudah diberi air kapur, kadang isinya terlalu banyak sehingga ketupat keras, kadang terlalu sedikit sehingga teksturnya lembek.
Aku juga rindu adik. Adik perempuanku satu-satunya, yang selalu membuat suasana ramai dengan humor-humor segarnya. Yang bisa membuat bapak kembali tersenyum saat marah, yang dipercaya mama untuk mencicipi berbagai masakannya.
Saya rimdu semua. Rindu dengan momen sungkeman, melihat bapak dan mama biasanya berpelukan begitu lama sambil saling menangis. Rindu berangkat sholat ied bersama saat pagi menjelang. Rindu bertakbir, rindu ramainya para tetangga.
Setiap keluarga memiliki ritualnya sendiri. Setiap orang meninggalkan rasa rindu yang berbeda, yang begitu terasa saat semua tidak ada. Lebaran kali ini memang sarat rindu dan menjadi bahan perenungan bagi saya, untuk lebih sering pulang, dan lebih sering mengungkap sayang. .
Sejak SMP, saya terbiasa mandiri. Saya pernah berbulan-bulan tinggal di kamar kos milik orang tua saya, padahal letaknya hanya di belakang rumah. Bapak bilang, supaya saya bisa bertanggung jawab dan latihan mengurus diri sendiri. Tak heran, ketika harus ngekos saat kuliah di Bandung, orangtua saya tenang-tenang saja. Jarang telpon kecuali ada keperluan penting, jarang menjemput kecuali saya sakit, dan jarang sengaja menengok, kecuali dengan kebetulan mereka lewat.
Sebaliknya, saya juga jarang pulang. Banyak waktu tersita oleh kegiatan kemahasiswaan maupun tugas kuliah yang berjibun. Mungkin satu bulan sekali saya pulang ke Bogor, itu pun kalau ibu saya sudah sms “Kapan pulang mbak?”. Itu artinya beliau sudah rindu dengan putri sulungnya ini.
Hubungan saya dan adik saya semasa kuliah juga sedikit merenggang. Dia asyik dengan band dan aktivitasnya, sehingga ketika saya pulang ke Bogor, seringkali bentrok dengan jadwalnya yang padat. Kami hanya bertegur sapa saat pagi hari. Tidak sempat berkeliling kota, tidak ada waktu untuk saling cerita.
Pendek kata, saya cuek. Jarang mengukir momen indah bersama keluarga, pun jarang merasa rindu untuk pulang.
Tapi lebaran kali ini semua rasanya berbeda..
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya saya begitu rindu rumah, rindu mama, bapak, dan adik saya. Berkali-kali saya sms mama, hanya sekedar ucap kangen. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.
Saat takbir menggema dan acara sungkeman dengan mertua tiba. Tangis saya pun pecah. Saya rindu mama, rindu membuat kue bersama hingga dini hari. Kalau waktu kecil saya hanya membantu menimbang dan mengocok telur, sejak SMA saya sudah bisa membuat kue sendiri. Ada kastengels, kue havermut kacang mede, dan kue cornflake kesukaan kami. Saat saya membuat kue, mama biasanya sibuk di dapur memasak rendang, opor ayam, dan sayur kentang yang rasanya luar biasa. Kali ini mama memilih membuat kue bersama teman-teman kantornya. “Di kantor ada oven besar” ujarnya.
Saya juga kangen Bapak. Kangen dengan keributannya saat membuat ketupat. Bapaklah yang selalu kebagian tugas membuat ketupat. Ia memilih memasak ketupat di atas tungku tradisional, dengan dua batu besar dan kayu bakar, daripada matang di atas kompor gas. “Rasanya beda,” . Aku, bapak, dan adik biasanya mengisi ketupat dengan beras yang sudah diberi air kapur, kadang isinya terlalu banyak sehingga ketupat keras, kadang terlalu sedikit sehingga teksturnya lembek.
Aku juga rindu adik. Adik perempuanku satu-satunya, yang selalu membuat suasana ramai dengan humor-humor segarnya. Yang bisa membuat bapak kembali tersenyum saat marah, yang dipercaya mama untuk mencicipi berbagai masakannya.
Saya rimdu semua. Rindu dengan momen sungkeman, melihat bapak dan mama biasanya berpelukan begitu lama sambil saling menangis. Rindu berangkat sholat ied bersama saat pagi menjelang. Rindu bertakbir, rindu ramainya para tetangga.
Setiap keluarga memiliki ritualnya sendiri. Setiap orang meninggalkan rasa rindu yang berbeda, yang begitu terasa saat semua tidak ada. Lebaran kali ini memang sarat rindu dan menjadi bahan perenungan bagi saya, untuk lebih sering pulang, dan lebih sering mengungkap sayang. .
Monday, October 09, 2006
Me, being 25
Hari ini milik saya. Dari sekian banyak hari-hari menyenangkan, hari ulang tahun adalah satu hari yang selalu membuat saya bahagia. Meskipun bertambah umur tidak menandai perubahaan kedewasaan yang drastis, tetapi setiap hari ulang tahun, saya selalu menikmati setiap momen-momen kecil, yang menjadi kenangan indah saat hari berakhir.
Hari ini misalnya, suami tercinta mengawali dimulainya hari dengan kejutan super indah.Kue tiramisu kesukaan saya hadir dihadapan, lengkap dengan lilin terang yang membangunkan saya pada dini hari tadi. Bukan, bukan kue dan kado istimewa darinya yang membuat saya bahagia... tetapi di bawah temaram lilin, wajah teduhnya tampak sempurna, pun senyum tulusnya membuat saya begitu menikmati gores raut wajahnya. Memikirkan bagaimana dirinya repot dan bersusah menyiapkan kejutan meninggalkan rasa haru dalam diri saya. Iya, laki-laki inilah yang membuat hidup saya terasa begitu ajaib, begitu hidup, dan begitu lengkap.. (terima kasih sayang!)
Momen-momen kecil yang membahagiakan masih berlanjut, sms-sms penuh doa datang dari sahabat-sahabat tercinta, saya bisa merasakan berbagai ketulusan mengalir dalam kata-kata indah mereka.. Menyadari saya dikelilingi begitu banyak kasih sayang, rasanya tidak ternilai..
Aha, itu dia!seorang teman lama menyapa melalui yahoo messenger, mengucapkan selamat ulang tahun, menanyakan kabar, dan ngobrol ngalor ngidul. Ada pula, sahabat lama yang tiba-tiba menyapa, meninggalkan rasa senang, karena mengetahui hidupnya kini bertambah baik...Ajaib rasanya, tahun-tahun yang hilang, bisa terganti hanya dalam satu hari pesan pendek...
Hari ini milik saya. Lebih dari sekedar ulang tahun, hari ini saya merasa disentuh begitu hangat oleh orang-orang terdekat dan para sahabat. Meninggalkan senyum di akhir hari, dan kenangan hingga mata saya menutup abadi
Hari ini milik saya. Sekarang saya 25 tahun, menikah dengan laki-laki yang saya cintai, menunggu kelahiran bayi kami, memiliki pekerjaan yang saya nikmati, dan dikelilingi sahabat – sahabat penuh cinta. Ah, saya siap memulai petualangan baru...
Hari ini milik saya. Dan semuanya sempurna.
Hari ini misalnya, suami tercinta mengawali dimulainya hari dengan kejutan super indah.Kue tiramisu kesukaan saya hadir dihadapan, lengkap dengan lilin terang yang membangunkan saya pada dini hari tadi. Bukan, bukan kue dan kado istimewa darinya yang membuat saya bahagia... tetapi di bawah temaram lilin, wajah teduhnya tampak sempurna, pun senyum tulusnya membuat saya begitu menikmati gores raut wajahnya. Memikirkan bagaimana dirinya repot dan bersusah menyiapkan kejutan meninggalkan rasa haru dalam diri saya. Iya, laki-laki inilah yang membuat hidup saya terasa begitu ajaib, begitu hidup, dan begitu lengkap.. (terima kasih sayang!)
Momen-momen kecil yang membahagiakan masih berlanjut, sms-sms penuh doa datang dari sahabat-sahabat tercinta, saya bisa merasakan berbagai ketulusan mengalir dalam kata-kata indah mereka.. Menyadari saya dikelilingi begitu banyak kasih sayang, rasanya tidak ternilai..
Aha, itu dia!seorang teman lama menyapa melalui yahoo messenger, mengucapkan selamat ulang tahun, menanyakan kabar, dan ngobrol ngalor ngidul. Ada pula, sahabat lama yang tiba-tiba menyapa, meninggalkan rasa senang, karena mengetahui hidupnya kini bertambah baik...Ajaib rasanya, tahun-tahun yang hilang, bisa terganti hanya dalam satu hari pesan pendek...
Hari ini milik saya. Lebih dari sekedar ulang tahun, hari ini saya merasa disentuh begitu hangat oleh orang-orang terdekat dan para sahabat. Meninggalkan senyum di akhir hari, dan kenangan hingga mata saya menutup abadi
Hari ini milik saya. Sekarang saya 25 tahun, menikah dengan laki-laki yang saya cintai, menunggu kelahiran bayi kami, memiliki pekerjaan yang saya nikmati, dan dikelilingi sahabat – sahabat penuh cinta. Ah, saya siap memulai petualangan baru...
Hari ini milik saya. Dan semuanya sempurna.
Subscribe to:
Posts (Atom)
