Tuesday, May 01, 2007

Kekuatan

Ya Allah..
Maha pemilik hidup
berikan hambamu ini kekuatan
sebaik-baiknya kekuatan
untuk berjuang, bertemu buah hati pertamaku
untuk pertama kalinya di dunia

Tuesday, April 10, 2007

untuk pakne

Pakne, sudah setahun kita menikah

Rasanya seperti baru kemarin ya, kita berkenalan, saling sms, saling diskusi hingga tenggelam dalam persiapan pernikahan yang begitu mengasyikkan. Rasanya juga seperti baru kemarin, kata-kata akad itu diucapkan, perasaan haru yang begitu sangat dicampur rasa bahagia tak terhingga. Rasanya juga baru kemarin ya, kita cekakak-cekikik berdua, dan sekarang kita menanti adik bayi lahir ke dunia.

Pakne.. ini satu tahun yang menyenangkan..

Terima kasih yaa..
Masih bersedia mencuci baju saat hamil bune semakin besar
Tidak pernah mengeluh jika rumah petak kita berantakan
Tidak pernah protes jika bune ngomel-ngomel karena ayah terlalu banyak menonton film kartun
Dan selalu maklum jika bune ngambek karena hanya ingin disayang

Terima kasih yaa..
Untuk selalu memberikan kecupan hangat setiap pagi
dan bersedia bangun tengah malam, jika kaki bune tiba-tiba keram
atau berkutat sendiri di dapur hanya untuk memasak mie dan menggoreng telur
tanpa pernah memaksa bune untuk rutin memasak

Terima kasih yaa..
Karena tidak pernah mempermasalahkan hal-hal kecil yang kadang terjadi
Selalu memberi ruang, agar bune tetap bahagia dengan berkumpul bersama teman lama
Atau menjadi teman diskusi yang asyik tentang berbagai hal tanpa menghakimi

Terima kasih yaa..
Sudah memperkenalkan bune pada indahnya memiliki mimpi besar
Mengajari bune untuk selalu semangat dan bersabar
Dan membimbing bune untuk selalu tangguh menghadapi kesulitan

Meski setahun kemarin hanya kita nikmati dengan indomie rebus dan foto-foto bersama..
Meski setahun kemarin diwarnai dengan hal-hal yang menguras emosi kita

Bune bahagia..
Dan berharap cinta itu akan selalu ada
Seperti Cinta Nagabonar pada sang Kirana.. hehehe

Sunday, April 08, 2007

sudah setahun



..cinta itu akan selalu ada..

Wednesday, March 28, 2007

Keajaiban Es Krim

Okey, in sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan. Berat saya sudah naik 18 kg, sudah semakin gendut. Kenaikan berat badan secara gila-gilaan itu sempat membuat saya stres, bukan karena saya takut gendut (hei ini kan orang hamil.. masa kebebasan untuk makan apapun), tapi karena berat badan adik bayi di dalam perut sempat kurang. Iya siiih, hanya beberapa gram saja, dan dokter juga menyatakan tidak mengkhawatirkan..

Tapi kok saya merasa egois ya, karena semua makanan yang saya makan, larinya ke saya semua, sementara adik bayi seolah tidak kebagian. Padahal saya tidak mengalami kesulitan makan apapun sejak kehamilan awal bulan, tidak mual, tidak muntah.. semua makanan masuk dengan sukses ke dalam perut saya. Kok adik bayi tidak besar-besar?.

Dokter sempat melakukan pengecekan kadar kekentalan darah saya. Karena kata dia, kalau darahnya terlalu kental, maka yang masuk ke Plasenta biasanya juga sedikit. Tapi hasil pengecekan juga normal. Oooh, mungkin pola makan saya yang salah. Mulailah saya mengurangi sedikit nasi, dan banyak makan lauk pauk. Tapi nggak berefek juga, berat saya tetap naik gila-gilaan, berat adik bayi naik sangat perlahan

Akhirnya, bertanyalah saya kesana kemari. Banyak orang menyarankan makan es krim. Setengah tak percaya, saya coba saja. Dua minggu lalu, saya rajin sekali makan es krim. Di freezer kulkas, saya simpan es krim Walls satu liter, sebagai cadangan kalau saya tiba-tiba ingin makan es. Enaknya, di kantor saya bisa makan es krim gratis. Jadilah saya rajin menyambangi lantai dua, untuk mencoba berbagi es krim..

Hmmm, memang enaaaakkk.. Conello rasa black forest atau strawberry, paddle pop shake, dan magnum rasa almond.. yummy!saya tidak peduli kalau berat saya terus naik, saya ingin membuktikan kalau resep makan es krim itu manjur. Beberapa orang juga menyarankan supaya saya makan coklat, Jadi tidak hanya es krim, saya juga rajin menyantap coklat hehehe..

Ternyataaa... setelah dua minggu, berat bayi saya naik drastis.. sebanyak 400 gram, jadi sekarang beratnya sudah 2,3 kg. Wuah saya senang bukan main, ternyata berhasil juga usaha saya menaikkan berat adik bayi. Saya juga jadi makin rajin menyambangi lantai dua, kadang teman-teman juga nitip minta diambilkan hehehe.. es krim, es krim, makanan enak penuh manfaat.. hehehe

Sampai teman saya bilang begini “wah baru sekali ini, ada orang yang kegirangan beratnya naik karena makan es krim..”hehehe. Hidup ES KRIM!




Wednesday, March 14, 2007

Renon dan diskriminasi

Namanya Renon. Pangeran Renon. Motor Mega Pro berwarna biru ini sudah menjadi teman sehari-hari bagi saya dan suami mengarungi jalanan. Bahkan mulai semenjak pacaran dulu, renonlah yang setia mengantar kami pergi ke penjuru kota Jakarta. Mulai menikmati air mancur menari di Monas, makan makanan padang di Senen, ataupun sekedar putar-putar di Blok M.

Renon juga kami ajak menempuh hujan, kadang menembus debu dan badannya kadang tergores roda koper, kalau saya terlalu banyak membawa jinjingan saat harus ke luar kota. Renon teruji gesit diajak meliuk-liuk melewati deretan mobil saat macet. Renon juga yang dulu setia membawa kami berdua pulang pergi ke Bogor, sampai perannya tergantikan karena bapak saya tidak tega membiarkan anaknya yang sedang hamil ini harus naik motor ke bogor, sehingga berbaik hati menjemput saya setiap akhir minggu.

Namun, di Jakarta ini, Renon kesayangan kami seringkali mengalami diskriminasi. Dianggap kendaraan kelas dua, diperlakukan seperti seperti kendaraan sampah, dan tidak mendapatkan pelayanan yang cukup. Padahal seperti band Seriues bilang “Motor bagai manusia”, tapi sayangnya sering diperlakukan tidak layak.

Seperti kemarin misalnya, ketika saya harus menghadiri seminar di Hotel Ritz Carlton Kuningan, Renon kesulitan mendapatkan parkiran. Jangankan parkir, moncongnya baru akan mendekati hotel untuk bertanya saja, semua mata satpam langsung memandang penuh larangan. Belum lagi ditanya ini itu, untuk apa tujuan datang ke hotel. Segera saya tunjukkan undangan seminar yang akan saya hadiri. Setengah malas, akhirnya satpam itu mempersilahkan Renon dan suami saya parkir di basement. Aneh kan, memangnya semua orang yang datang ke hotel harus mengendarai mobil ya? Dan untuk apa pula tidak ada angin dan hujan datang ke hotel tersebut....

Kisah lain juga dialami Renon dan suami saya, ketika menunggu saya selesai menghadiri acara kantor di Hotel Four Season. Parkir di depan jalanan hotel sebentar saja, para petugas keamanan rasanya seperti kegerahan. Mengusir Renon dengan mimik wajah yang tidak menyenangkan. Beruntung, suami tidak bergeming.

Bandingkan jika saya datang dengan mobil menuju hotel. Sampai di depan lobby hotel, pintu dibukakan oleh petugas hotel dengan senyum ramah. Mengucapkan selamat datang dan menawarkan membantu membawa barang. Tak tahulah dia, mobil yang saya tumpangi hanya mobil milik kantor.

Tidak hanya itu,diskriminasi Renon juga terjadi saat kami mengunjungi mal-mal maupun pusat perbelanjaan. Tempat parkir motor biasanya diletakkan jauuuuuh dari gedung, sehingga kami terpaksa berjalan sambil menenteng belanjaan yang kadang-kadang lumayan banyak. Tidak ada keistimewaan bisa menjemput di depan lobby.

Sungguh, kadang kesal sekali diperlakukan seperti itu...



Sunday, February 25, 2007

Kelak..

Nak,kelak kita akan belajar bersama...

Engkau akan belajar, mengenal berbagai hal baru yang pertama kali engkau lihat dengan matamu yang binar, dan aku, ibumu, juga akan belajar meminggirkan semua lelah demi menjawab dengan baik semua tanyamu mengenai isi bumi ini

Engkau akan belajar, bagaimana berjalan di atas dua kakimu, tertatih, jatuh, dan bangun lagi.. yang sesungguhnya mengajarkan padamu, untuk tidak pernah menyerah dalam menggapai apapun yang engkau inginkan di dunia ini. Dan aku, ibumu, juga akan belajar untuk meluangkan waktu di tengah-tengah pekerjaan yang menghimpit waktuku, untuk bermain bersama agar engkau lebih sering tertawa

Engkau akan belajar mengenal huruf dan angka. Melafalkannya menjadi bacaan, menuliskannya dalam cerita dan kisah indah. Kata teman ibu, itulah nanti caramu menyerap energi dunia. Dan aku, ibumu akan belajar, menyiapkan energi lebih banyak, hanya untuk membacakan cerita padamu sebelum dirimu terlelap tidur. Agar engkau berani berimajinasi, bermimpi tinggi-tinggi

Engkau akan belajar menyayangi sekitarmu, mengenal apa itu ketulusan hati, dan berbuat baik tanpa pamrih. Dan aku ibumu juga akan belajar, mengurangi keluhan,berusaha memaafkan, bahwa setiap langkah salahmu adalah sesungguhnya proses belajarmu..

Engkau akan tumbuh.. dari gadis kecil menjadi remaja dewasa. Kau akan belajar mengenal kerasnya dunia, dan sesungguhnya setiap tangis matamu akan membuatmu bertambah kuat. Dan aku, ibumu, juga akan belajar menjadi sahabatmu, membaca ini itu karena nanti masamu dan masaku tidak akan lagi sama

Engkau akan belajar berani, dan berani belajar., mengambil resiko dan berani gagal. Percayalah nak, kegagalan akan menjadi guru ampuh dalam hidupmu. Dan aku, ibumu, juga akan belajar mempercayai setiap pilihan penting dalam hidupmu...

Nak, aku, ibumu bersama ayahmu akan bersama menyaksikan, bagaimana potongan-potongan diri kamu menjadi satu dalam tubuhmu. Setengah milik ayah, dan setengah milik ibu.Semoga hanya kebaikan yang mengalir dalam darahmu. Jangan contoh sikap ibu yang kadang buruk, maupun kebiasaan ayah yang kadang menyebalkan. Tumbuhlah menjadi kuat, nikmatilah indahnya dunia, berproseslah dengan sempurna. Menahapi setiap tangga kehidupan.

Nak, sesungguhnya melalui dirimu, aku, ibumu yakin berbagai keajaiban akan terjadi. Berbagai kisah indah akan mengalir. Apapun yang terjadi, kau akan selalu menemukan surga diantara pelukan-pelukan hangatku...

Thursday, February 22, 2007

Mental Break Session



Semua hal butuh istirahat. Bahkan matahari terlelap saat malam dan sang bulan bertugas terjaga menerangi bumi. Bahkan pada setiap kalimat-kalimat panjang, kita perlu berjeda, untuk sekedar menghela nafas.

Saya percaya setiap orang memiliki momen favorit hanya untuk sekedar mengistirahatkan otak yang seharian keras berfikir, menyandarkan badan yang jungkir balik menghidupi diri, dan memberi ruang pada hati untuk sejenak menghirup aura-aura suci.

Kita perlu beristirahat. Saat dimana kita keluar sejenak untuk keluar dari zona sibuk dan rumit. Menyepi, meminggir tanpa perlu keras berfikir. Menikmati kebahagiaan seadanya, lepas dari label pekerjaan, istri, dan si anu maupun si itu. Berbahagia dengan seadanya, untuk diri saya sendiri.

Ada banyak cara yang saya lakukan untuk memberi badan, pikiran, dan hati saya untuk istirahat. Jika energi sedang cukup banyak, saya sungguh menikmati bebersih rumah. Menata kembali perabotan yang berantakan, rasanya sama dengan menata file-file di kepala saya. Sehingga ketika usai bebenah, hati saya terasa lebih damai, dan siap memulai hari yang baru.

Di kantor, saya punya sesi book club favorit. Sambil membahas buku yang sama-sama kita baca, setiap orang dalam club bebas mengeluarkan pandangan pribadinya, berceloteh tentang pengalaman hidupnya. Dipandu oleh fasilitator yang handal, kami semua diajak meneropong pengalaman hidup dari cara yang positif, dan menguatkan nilai-nilai hidup yang sudah kita pegang.

Sesi ini selalu berhasil memompa semangat saya. Mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan tidak menjalani hidup apa adanya. Pun membantu saya memaknai setiap kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Saya cinta book club ini.

Momen istirahat favorit saya yang lain adalah, saat punya kesempatan bertemu dengan sahabat-sahabat lama. Berbincang mengenai hidup, bertukar pikiran mengenai apapun, jujur terhadap keadaan masing-masing hingga berujung pada kehebatan kami mentertawai kebodohan diri sendiri.

Ya.. sahabat-sahabat saya, meski tidak intens bertemu, kami selalu merasa dekat, walau hanya dengan update beberapa jam saja. Hanya disertai beberapa gelas kopi maupun coklat favorit. Pertemuan dengan sahabat selalu membuat saya rindu.

Beristirahat, apapun bentuknya perlu diluangkan. Setidaknya membantu saya bahagia dengan sederhana, dengan diri saya apa adanya.

Monday, February 19, 2007

Berkenalan dengan Pram


Pramoedya Ananta Toer. Nama penulis besar, yang hingga selama 25 tahun saya hidup belum pernah satu pun karyanya say abaca. Yang hingga sang penulis wafat belum pernah saya menjamah buku-buku tulisannya. Alasan sederhana: malas, karena bukunya tebal-tebal dan temanya tampak begitu serius.

Si pram ini sudah banyak dibincangkan orang, berkali-kali menjadi nominasi untuk meraih nobel sastra. Banyak orang mengaku terinspirasi akan tulisannya. Tapi saya tak juga bergeming, bahkan rasa penasaran pun tidak ada. Sekian banyak orang merekomendasikan, bahkan setengah berbangga. Seolah membaca karya Pram sudah menjadikan mereka orang besar, menjadikan mereka lebih berarti, dan membuat tampilan mereka lebih berbobot.

Saya ingat suatu kali, ketika hendak mengikuti seleksi menjadi reporter salah satu televisi swasta. Salah satu pertanyaannya adalah saya diminta menyebutkan judul-judul buku karya Pram. Kalau hanya judul buku sih saya tau, tapi ingin tertawa geli saat sang produser menjelaskan, pertanyaan itu dimunculkan karena menurut mereka orang-orang yang membaca karya Pram tentulah memiliki kualitas otak yang lebih baik. Sungguh aneh.

Lalu beberapa bulan lalu, suami saya membelikan seri buku pertama dari tetralogi Pram yang terkenal. Bumi Manusia. ”Bacalah,kamu akan tenggelam bersamanya,” kata dia. Oke, akhirnya saya ”terpaksa” berkenalan dengan karya Pram. Sekarang saya sudah bisa penasaran, bagaimana sesungguhnya buku yang menurut banyak orang menarik ini? Dari segi mana menariknya? Bahasa tuturnya kah? Jalan ceritanya? Atau apa?

Saya sendiri menyenangi buku-buku yang menyajikan pengalaman baru bagi indra saya. Saya menyukai ending cerita yang sukar ditebak, menyukai deskripsi yang metafora, menyukai penokohan yang aneh, dan menikmati cerita petualangan.

Lalu mulailah saya berkelana dalam Bumi Manusia. Duh, melewati halaman-halaman pertama rasanya suliiiit sekali. Buku itu belum berhasil membawa saya ketagihan, belum mampu memanggil saya ketika saya tidak ada kerjaan. Beranda buku itu belum berhasil membuat saya duduk nyaman. Ketika suami saya tanya ”Buku itu sudah berhasil menarikmu tenggelam?” saya hanya menggeleng sambil meringis.

Lalu, seminggu lalu, ketika saya terpaksa harus tinggal di rumah karena flu berat, saya akhirnya membaca buku itu. Selembar,lalu satu bab, tanpa sadar sudah setengah buku. Saya mulai tenggelam, saat Nyai Ontosoroh menerawang bertutur kembali tentang masa lalunya.

Setelah itu, rangkaian cerita seolah tampak semakin menarik, semakin misterius.

Saya menyukainya. Mengagumi deskripsi Pram tentang bagaimana setiap orang seharusnya merdeka. Tenggelam dalam alur cerita bertuturnya yang begitu mendalam. Dialog-dialog perdebatan yang seru, maupun penggambaran masa lalu yang begitu detail.Saya banyak menemukan kutipan menarik dari buku itu. Tentang cinta, tentang manusia, dan tentang hidup.

Harus saya akui, meskipun belum jatuh cinta, Bumi Manusia telah membawa pengalaman baru bagi indra saya. Sst saya belum selesai membacanya.. penasaran dengan endingnya nih..

Monday, January 22, 2007

merayakan hidup dengan lebih baik

tahun ini,
saya ingin lebih banyak mencoba setiap rasa yang ditawarkan oleh kehidupan
tanpa pagar di kepala, tanpa ekspektasi berlebih
mengikuti laju hidup dengan alami

saya juga ingin meresapi lebih dalam
menyentuh lebih banyak hati
berusaha membuat setiap hari berarti

saya juga tidak akan lelah belajar bermimpi
dan menjejaki tahap demi tahap
berusaha melawan kemalasan yang sangat

tahun ini
saya hanya ingin merayakan hidup dengan lebih baik
apapun keadaannya

Friday, January 19, 2007

Perjumpaan setiap bulan yang menakjubkan



Sejak Juli lalu, setiap bulan saya selalu menantikan perjumpaan ini. Melihat dirinya hanya dari layar mini. Bertransformasi dengan menakjubkan. Mulai berbentuk lingkaran kecil, memanjang, hingga tulang tubuhnya mulai terlihat jelas. Rasanya jika bisa setiap hari memandangnya, meski hanya dalam wujud dua dimensi saja, tentu mampu menghapuskan kekesalan sehari-hari

Seharusnya saya bercerita ini sejak dulu. Sejak Tuhan mempercayakan adik bayi hidup dalam janin saya. Sejak saat itu, banyak momen menakjubkan terjadi, seolah dia memang lahir untuk membuat saya lagi-lagi percaya: keajaiban itu ada!

Sekarang sudah memasuki usia 6 bulan. Setiap bulan saya memang tak sabar. Rasanya kok terlalu lama, menengok dia dalam perut saya. Setiap ke dokter, alat USG selalu ditempelkan, dan dari layar seukuran televisi, saya bisa melihat siluetnya.

Bulan pertama dan kedua memang belum terlihat bentuknya. Hanya kedip-kedip jantungnya saja yang tampak di layar monitor USG. Bulan ketiga dan keempat, bentuknya sudah semakin terlihat, dia sudah memiliki tangan dan kaki. Dokter pun mulai menggunakan alat untuk mendengarkan denyut jantung adik bayi. Degupannya begitu kencang, dua kali detak jantung manusia dewasa.

Pengalaman seru terjadi ketika saya kontrol usia kandungan 5 bulan. DI layar, tampak badannya bergoyang-goyang. Rupanya dia sedang cekukan, tak lama, dia memasukkan jari tangannya ke mulut lalu badannya memutar, sehingga saya hanya bisa melihat siluet kepalanya. Saya tertawa-tawa bahagia, kok bisa ya semua terjadi di dalam perut saya? Subhanallah..

Kehamilan saya, alhamdulilah begitu dimudahkan Tuhan. Tidak ada morning sick, tidak ada muntah-muntah, hanya mual-mual sedikit yang semakin menjadi-jadi ketika saya kelaparan hehehe. Saya juga tidak ngidam, rasanya semua makanan cocok di lidah. Nafsu makan saya pun pada masa awal kehamilan luar biasa naik. Makan sebanyak apapun, sepertinya masih saja kurang.

Saya percaya, kondisi kehamilan ditentukan oleh pikiran. Jadi dari awal saya yakin kehamilan ini akan mudah, saya tidak biasa memanjakan diri. Bekerja seperti biasa, bahkan tetap terbang ke luar kota.

Setiap kali saya berdoa, semoga Allah meridhoi kelahirannya ke dunia dengan kesehatan, mengkaruniai adik bayi dengan kecerdasan, kesolehan, dan budi pekerti yang baik.

Mulai sekarang saya akan lebih sering berbagi cerita, rasanya sayang jika pengalaman menakjubkan ini disimpan sendiri dalam hati. Kelak, saya akan membaca halaman-halaman ini bersama dia.

Lalu tertawa bahagia bersama..

Doakan saya ya..

Sunday, October 29, 2006

Percaya nggak percaya


Saya bukan orang yang mudah percaya pada takhayul, tetapi selalu antusias mendengarkan berbagai kisah yang menyangkut hal-hal misterius, yang kadang tidak bisa diterima dengan akal logika. Dibesarkan dalam keluarga Jawa dan hidup di tengah-tengah masyarakat Sunda, saya tentu saja mendengar berbagai kisah aneh-aneh, dan berbagai larangan yang disampaikan oleh orang orang tua di sekitar saya.

Misalnya saja, tidak boleh memukul dengan sapu lidi, karena ditakutkan akan memiliki banyak anak sejumlah lidi yang ada. (Dulu saya percaya, lalu lama-lama mikir juga, banyak anak atau tidak itu kan tergantung kita sendiri?). Lalu tidak boleh duduk di pintu jendela, nanti jauh jodoh. (Padahal duduk di pintu jendela tentu mengganggu orang yang lalu lalang dalam rumah). Atau, anak perempuan harus menyapu sampai bersih, jika tidak dia akan memperoleh suami yang penuh brewok. (Tentu saja menyapu harus bersih, agar kotorannya tidak berterbangan kemana-mana). Entah darimana asal-usul berbagai takhayul seperti itu, tetapi selalu seru membicarakan hal-hal yang orang Sunda menyebutnya “pamali”.

Seperti kemarin ketika saya pulang ke Bogor. Di dapur, sambil memasak, berkumpulah kami para perempuan dari berbagai generasi. Ada saya yang sedang hamil 3 bulan, ada ibu saya, dan ada nenek saya. Lalu ada si bibi, wanita asli Sunda yang hampir setiap hari membantu ibu saya bersih-bersih rumah.

Lalu mulailah berbagai kisah dan pantangan untuk orang yang sedang hamil. Beberapa yang disampaikan si bibi, saya akui, membuat saya terbelalak tak percaya sambil menahan geli. Bibi bilang, orang hamil tidak boleh makan menggunakan piring lebar. “Nanti muka anaknya lebar,” (heh? Apa hubungannya ya). Lalu dia bilang, kalau mandi tidak boleh melilitkan handuk di leher. Apa pasal? “Nanti bayinya dalam perut terlilit usus,”. Lalu, setiap melihat hal yang buruk-buruk saya dianjurkan mengusap perut, sambil berdoa agar tidak terjadi pada bayi saya. “Soalnya neng, kalau orang hamil, suka lihat yang aneh-aneh. Jadi gak boleh sembarangan” Bibi juga memberikan tips jitu, menurut dia saat melahirkan nanti sebaiknya pantat saya tidak diangkat, supya tenaga saat mengejan bisa lebih maksimal, dan tidak perlu dijahit. “Anak bibi empat, dan semuanya gak pake dijait neng”.

Bibi juga bertutur, menjelang melahirkan dia minum minyak kelapa, agar jalan melahirkan menjadi licin. Tak lupa, air kelapa muda hijau agar kulit bayi bersih dan bersinar. Saya yang kaget dengan begitu banyak pantangan, hanya bisa berujar “Masa sih?”

Ibu saya lalu menambahkan, orang hamil tidak boleh merendam pakaian, nanti ditakutkan air ketubannya berlebih sehingga kandungan saya kembar air. Sementara nenek saya menyampaikan pantangan makanan, agar bayi saya sehat. Kata si mbah, jangan makan buah kweni, duren, nanas, dan nangka. Buah-buah tersebut dipercaya memberikan efek panas di perut. Dia juga menganjurkan mengurangi minum es, karena akan membuat sang jabang bayi ukurannya besar.

Duh..duh banyak sekali hal yang harus diperhatikan. Antara percaya dan tidak, antara takut dan heran. Namun, yang pasti saya percaya ketika nenek saya bertutur “Setelah melahirkan, nanti kamu akan merasakan, betapa perjuangan seorang ibu begitu berat. Nanti pasti kamu tambah sayang sama mama. Nah, laki-laki tidak mungkin pernah merasakan hal seperti itu,”

Iya memang, ini pengalaman istimewa. Saya menikmatinya setiap hari, menjaga dengan baik janin kecil yang tumbuh dalam diri saya. Dengan berbagai pantangan maupun tidak.. yang penting ia lahir sehat...

Thursday, October 26, 2006

Lebaran yang sarat rindu

Lebaran kali ini tidak saya habiskan bersama mama, bapak, dan adik di Bogor. Saya berlebaran di tanah kelahiran suami saya di Batang, Jawa Tengah. Berkumpul dengan keluarga kecil yang baru, dengan suasana yang tentu saja berbeda.

Sejak SMP, saya terbiasa mandiri. Saya pernah berbulan-bulan tinggal di kamar kos milik orang tua saya, padahal letaknya hanya di belakang rumah. Bapak bilang, supaya saya bisa bertanggung jawab dan latihan mengurus diri sendiri. Tak heran, ketika harus ngekos saat kuliah di Bandung, orangtua saya tenang-tenang saja. Jarang telpon kecuali ada keperluan penting, jarang menjemput kecuali saya sakit, dan jarang sengaja menengok, kecuali dengan kebetulan mereka lewat.

Sebaliknya, saya juga jarang pulang. Banyak waktu tersita oleh kegiatan kemahasiswaan maupun tugas kuliah yang berjibun. Mungkin satu bulan sekali saya pulang ke Bogor, itu pun kalau ibu saya sudah sms “Kapan pulang mbak?”. Itu artinya beliau sudah rindu dengan putri sulungnya ini.

Hubungan saya dan adik saya semasa kuliah juga sedikit merenggang. Dia asyik dengan band dan aktivitasnya, sehingga ketika saya pulang ke Bogor, seringkali bentrok dengan jadwalnya yang padat. Kami hanya bertegur sapa saat pagi hari. Tidak sempat berkeliling kota, tidak ada waktu untuk saling cerita.

Pendek kata, saya cuek. Jarang mengukir momen indah bersama keluarga, pun jarang merasa rindu untuk pulang.

Tapi lebaran kali ini semua rasanya berbeda..
Untuk pertama kalinya dalam hidup saya saya begitu rindu rumah, rindu mama, bapak, dan adik saya. Berkali-kali saya sms mama, hanya sekedar ucap kangen. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

Saat takbir menggema dan acara sungkeman dengan mertua tiba. Tangis saya pun pecah. Saya rindu mama, rindu membuat kue bersama hingga dini hari. Kalau waktu kecil saya hanya membantu menimbang dan mengocok telur, sejak SMA saya sudah bisa membuat kue sendiri. Ada kastengels, kue havermut kacang mede, dan kue cornflake kesukaan kami. Saat saya membuat kue, mama biasanya sibuk di dapur memasak rendang, opor ayam, dan sayur kentang yang rasanya luar biasa. Kali ini mama memilih membuat kue bersama teman-teman kantornya. “Di kantor ada oven besar” ujarnya.

Saya juga kangen Bapak. Kangen dengan keributannya saat membuat ketupat. Bapaklah yang selalu kebagian tugas membuat ketupat. Ia memilih memasak ketupat di atas tungku tradisional, dengan dua batu besar dan kayu bakar, daripada matang di atas kompor gas. “Rasanya beda,” . Aku, bapak, dan adik biasanya mengisi ketupat dengan beras yang sudah diberi air kapur, kadang isinya terlalu banyak sehingga ketupat keras, kadang terlalu sedikit sehingga teksturnya lembek.

Aku juga rindu adik. Adik perempuanku satu-satunya, yang selalu membuat suasana ramai dengan humor-humor segarnya. Yang bisa membuat bapak kembali tersenyum saat marah, yang dipercaya mama untuk mencicipi berbagai masakannya.

Saya rimdu semua. Rindu dengan momen sungkeman, melihat bapak dan mama biasanya berpelukan begitu lama sambil saling menangis. Rindu berangkat sholat ied bersama saat pagi menjelang. Rindu bertakbir, rindu ramainya para tetangga.

Setiap keluarga memiliki ritualnya sendiri. Setiap orang meninggalkan rasa rindu yang berbeda, yang begitu terasa saat semua tidak ada. Lebaran kali ini memang sarat rindu dan menjadi bahan perenungan bagi saya, untuk lebih sering pulang, dan lebih sering mengungkap sayang. .

Monday, October 09, 2006

Me, being 25

Hari ini milik saya. Dari sekian banyak hari-hari menyenangkan, hari ulang tahun adalah satu hari yang selalu membuat saya bahagia. Meskipun bertambah umur tidak menandai perubahaan kedewasaan yang drastis, tetapi setiap hari ulang tahun, saya selalu menikmati setiap momen-momen kecil, yang menjadi kenangan indah saat hari berakhir.

Hari ini misalnya, suami tercinta mengawali dimulainya hari dengan kejutan super indah.Kue tiramisu kesukaan saya hadir dihadapan, lengkap dengan lilin terang yang membangunkan saya pada dini hari tadi. Bukan, bukan kue dan kado istimewa darinya yang membuat saya bahagia... tetapi di bawah temaram lilin, wajah teduhnya tampak sempurna, pun senyum tulusnya membuat saya begitu menikmati gores raut wajahnya. Memikirkan bagaimana dirinya repot dan bersusah menyiapkan kejutan meninggalkan rasa haru dalam diri saya. Iya, laki-laki inilah yang membuat hidup saya terasa begitu ajaib, begitu hidup, dan begitu lengkap.. (terima kasih sayang!)

Momen-momen kecil yang membahagiakan masih berlanjut, sms-sms penuh doa datang dari sahabat-sahabat tercinta, saya bisa merasakan berbagai ketulusan mengalir dalam kata-kata indah mereka.. Menyadari saya dikelilingi begitu banyak kasih sayang, rasanya tidak ternilai..

Aha, itu dia!seorang teman lama menyapa melalui yahoo messenger, mengucapkan selamat ulang tahun, menanyakan kabar, dan ngobrol ngalor ngidul. Ada pula, sahabat lama yang tiba-tiba menyapa, meninggalkan rasa senang, karena mengetahui hidupnya kini bertambah baik...Ajaib rasanya, tahun-tahun yang hilang, bisa terganti hanya dalam satu hari pesan pendek...

Hari ini milik saya. Lebih dari sekedar ulang tahun, hari ini saya merasa disentuh begitu hangat oleh orang-orang terdekat dan para sahabat. Meninggalkan senyum di akhir hari, dan kenangan hingga mata saya menutup abadi

Hari ini milik saya. Sekarang saya 25 tahun, menikah dengan laki-laki yang saya cintai, menunggu kelahiran bayi kami, memiliki pekerjaan yang saya nikmati, dan dikelilingi sahabat – sahabat penuh cinta. Ah, saya siap memulai petualangan baru...

Hari ini milik saya. Dan semuanya sempurna.

Thursday, August 17, 2006

Presiden Juga Manusia Biasa

Tidak ada yang salah dengan gambar besutan fotografer Dudi Anung Anindito dan Abror Rizki, dua juru foto pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Pada deretan foto yang terpampang di sky walk Pondok Indah Mall, foto-foto keduanya diambil dengan tajam, angle yang menarik,dan pencahayaan yang sempurna. Saya bukan ahlinya menilai karya fotografi, tapi setidaknya saya cukup paham mana foto-foto yang diambil dari sudut yang unik, momen yang spesial, dan mana foto-foto standar yang biasa-biasa saja..

Hanya saja,160 foto itu tidak membuat saya terkejut maupun terkesima. Judul pameran "Presiden juga manusia biasa" tampak betul-betul tidak mengena. Menteri Jero Wacik berujar, foto-foto tersebut menampilkan keseharian presiden sebagai manusia biasa, dan ingin menonjolkan bagaimana begitu membanggakan memiliki pemimpin yang tampil di forum dunia, sejajar dengan pemimpin negara lain, yang begitu gagah, ganteng, cerdas, merakyat, dan selalu terjun ke bawah.


Jika hanya ingin mengekploitasi kegagahan SBY, saya bisa maklum. Tetapi, jika ingin menunjukkan sisi lain -yang mereka sebut dengan sisi manusia biasa- tampaknya gagal. Manusia biasa adalah manusia yang bisa terlihat sedih, lelah, luar biasa bahagia, dan melakukan hal-hal kecil yang dilakukan manusia pada umumnya.

Namun,foto-foto yang ada justru jauh dari kesan candid. Seperti sudah diatur. Terkesan resmi dan tidak lepas. Konon, foto-foto itu dipilih sendiri oleh SBY dari 500 foto yang diajukan. Jadi, mungkin bukan sang juru foto pribadi yang tidak memiliki momen foto yang unik, melainkan selera sang pemilih yang tidak lepas dari kepentingan pencitraan dirinya.

Sederhana saja, ketika mendengar kalimat "Presiden juga manusia biasa", saya berharap akan melihat pemimpin negara ini dari sudut yang lebih humanis. Sisi dimana ia betul-betul meninggalkan atribut sebagai kepala negara. Bisa dari segi ekspresi, kostum, lokasi.. apa saja..

Misalnya, saat SBY tertawa lepas dan bersorak gembira ketika tim unggulannya menang Piala Dunia. Atau, saat air mata kebahagiaan meluncur, saat dirinya harus melepaskan sang putra pertama menuju pelaminan. Atau, saat matanya menunjukkan kesedihan mendalam begitu pertama kali mendengar Aceh diterjang tsunami. Atau, peluh keringat saat dirinya berolah raga. Bisa juga, foto yang menampilkan dirinya asyik bersarung sambil membaca buku di beranda belakang.

Bukan foto dirinya berpidato di ajang pentas dunia, yang merekam gerakan tangannya yang khas. Bukan senyuman dan mata memandang ke kamera saat ia hendak bercukur dan ke dokter gigi. Bukan dirinya dengan jas maupun pakaian resmi. Bukan ketika dia berfoto bersama para pemimpin Asean.Bukan foto-foto yang sudah seringkali terpampang di media cetak.

Harapan saya, melalui tema foto manusia biasa, SBY Bisa terlihat begitu menginspirasi, dapat mengundang senyum maupun decak kagum. Foto-foto yang membuat saya tidak bosan-bosan memandangnya. Yang jelas saya kecewa dengan pemilihan foto yang jauh sekali dari tema manusia biasa.

Tak heran, satu-satunya foto yang bisa saya nikmati dan membuat saya berdecak kagum adalah foto sekumpulan para menteri yang tengah tertawa lepas dalam sebuah tenda, ada Purnomo Yusgiantoro, ada Alwi Sihab dan beberapa menteri lainnya. Yup! lengkap dengan kaos oblong, sarung kotak-kotak, wajah kucel, dan satu sachet autan di tangan....

Thursday, July 13, 2006

sepak oh bola

aha.. sepak bola!
saya tidak pernah betul-betul menikmati permainan ini, buat saya satu-satunya yang menarik dari permainan ini adalah saat bola memasuki gawang. Dan menanti momen itu selama dua kali empat puluh lima menit rasanya terlalu lama. Jadi cukup menanti ulasan sepak bola yang isinya gol-gol terindah buat saya sudah cukup. Saya tidak mengerti bagaimana sebuah permainan begitu bisa digandrungi jutaan orang di dunia. Ada berbagai macam liga,ada berbagai macam jenis pertandingan. Tetapi saya tidak pernah menikmatinya..

Ketika masa SMA dulu, teman perempuan yang gandrung sepak bola tampak selalu lebih keren dari kami-kami yang hanya menyukai sinetron atau film seri . Teman-teman perempuan saya dulu, betul-betul bisa hafal betul setiap pemain yang bagus, setiap klub yang keren sampai ke detil peraturan. Sementara, teman-teman laki-laki begitu tergila-gila dengan permainan Championship Manager,dan membuat mereka rela begadang hingga jam 2 pagi hanya demi memuaskan hasrat mengatur permainan dan mencapai kemenangan di dunia virtual

Belum lagi istilah-istilah bahasa Itali yang bikin mumet. Kok rasanya sepak bola tidak betul-betul tidak memiliki daya tarik bagi saya. Bahkan saya ingat, salah satu pertanyaan tes ketika saya ingin masuk STAN adalah: Siapa nama pelatih Manchester United? (haaaa, emang penting ya?). Pertanyaan ini membuat saya kebingungan waktu itu.

Tapi pesta bola kali ini lain..
Entah kenapa, hajat empat tahun sekali ini membuat saya jadi salah satu di antara penggila bola. Memelototi permainan dari awal samapi akhir bahkan samapi rela begadang. Saya hanya mengerti sepintas negara-negara mana saja yang biasanya dijagokan, lalu hapal sedikit pemain-pemain yang cukup terkenal. Ah, saya tentu hafal David Beckham yang jadi Kapten Inggris, Ronaldo yang membela tim Brazil, Zidane yang kali ini tampak lebih kurus. Ada Inzaghi, ada Del Piero, ada Fabian Bartez.

Jangan harap saya mengerti setiap peraturan. Sambil menonton saya juga sambil belajar. tapi ternyata menyaksikan seluruh pertandingan membuat emosi saya juga terhanyut. Gemas jika gol hanya mepet bibir gawang, gemas jika tiba-tiba bola berpindah ke kaki lawan, bahkan ikut memaki-maki jika lawan melakukan pelanggaran. Cara saya menikmati bola juga sederhana, saya bukan penggemar fanatik tim tertentu, setiap pertandingan saya hanya membela tim yang tidak dijagokan.

Jadi saya begitu sedih ketika Argentina kalah oleh Jerman. Begitu gembira ketika Perancis menang dari Brazil, tapi berharap Perancis kalah ketika final melawan Italia. hehehe. Meski saya tidak hapal pemainnya, tetapi saya begitu gembira ketika Italia menang Piala Dunia.

Entah ya, apakah ini merupakan titik awal saya menyukai sepak bola. Atau saya memang hanya antusias menyaksikan Piala Dunia? yang artinya, mungkin saya baru kembali menyaksikan sepak bola empat tahun lagi!

Tuesday, July 04, 2006

war room

challenging.nervous.thrill.excited.input.
support.friends.learn.share.english.comment.
passion.improvement.concept.
think.feel.elaborate.
"raise the bar"
"grasp the oppurtunity..still it!"
"be confident, initiate activity, show your potential"

Monday, June 26, 2006

..........

Tuhan
ringankan beban di pundaknya
atas rasa kehilangan yang begitu dalam
gantikan dengan percikan bahagia
agar tampak sesungging senyuman

Tuhan
hangatkan kalbunya
jangan biarkan membeku
agar masih bisa ia meresapi
setiap keindahan yang engkau ciptakan

setiap warna yang selalu menjadi inspirasinya
setiap kata yang menjadi pemancing gelak tawa
setiap alunan jazz indah yang memanjakan telinganya

Tuhan
sampaikan pelukan hangatku
melalui keajaibanmu
agar dalam setiap gelap
ia selalu menemukan cahaya terang

[untuk G.Nurmalasari Silaban]

Wednesday, June 21, 2006

body facts

date: 06.21.2006
time: 19.21.02
mode:whole
sex:female
age:24
height: 165 cm
weight: 61,1 kg (+3,9kg)
fatness: +6,8%
body age:
protein: 9.2 kg
muscle:41.8 kg
mineral: 3.5 kg
Nah itu dia, fakta terbaru tentang tubuh saya. Lihat di bagian wieght, berat badan saya kelebihan 3,9 kg, idealnya 57,2 kg. hahaha jadi malu, hanya dalam dua bulan, berat badan naik drastis 6kg. Sebelum menikah, saya rutin ke pusat kebugaran, hasilnya saat menikah berat saya ideal betul, mencapai 55 kg. Eh, setelah kembali bekerja, kok jadi malas ya berolah raga.. apalagi di tempat kerja baru, makanan selalu berslewiran tiada henti (lho kok jadi menyalahkan tempat kerja baru hehehe).
Soal berat badan ini memang seringkali jadi perhatian saya, sahabat-sahabat dekat pasti sudah hafal kalau saya mulai mengeluh celana kesempitan, baju kekecilan karena berat badan naik. Semasa kuliah dulu, saya lumayan rajin olahraga setiap pagi.. sederhana saja, mengelilingi lapangan Sabuga ITB. Waktu itu sih sekalian refresing, karena pusing mengerjakan skripsi. Saya juga sempat mengikuti beberapa kelas aerobik. Bahkan saya masih sempat membaca majalah kesehatan dan mengikuti informasi terbaru seputar dunia kesehatan. Pokoknya healthy life lah!
Saya termasuk orang yang senang melakukan aktivitas fisik, dari SD sudah ikutan pencak silat, lalu aktif menari daerah, sampai sma saya juga masih aktif menari bali. Buat saya, melakukan aktivitas fisik membuat kepala jadi lebih enteng, badan juga jadi lebih fit, nafas panjang dan tidak mudah lelah.
Tapiiiiii,jika malas menyerang, rasanya lebih nyaman berlindung di dalam selimut hangat di pagi hari lalau ngemil tiada henti. Tanpa terasa, perut membuncit deh! padahal saya mengerti semua manfaat olah raga... heheheh dasar pemalas!
Hari ini saya mampir ke pusat kebugaran di kantor, ternyata alat-alatnya lengkap dan suasananya asyik. Kelas aerobiknya juga bermacam-macam, dari pilates hingga step aerobic. Duh betul-betul menggiurkan. Timbul deh keinginan kembali berolahraga, apalagi ditambah fakta berat badan yang semakin melar. Memang sih, nggak parah-parah banget, masalahnya berat badan yang naik membuat saya merasa tidak nyaman.
Jadi ceritanya, saya mau membulatkan tekad kembali: Rutin berolahraga supaya sehat hat hat!

Monday, June 19, 2006

bangkit yang sesungguhnya


"Bantuan tidak akan mengalir selamanya, sekarang waktunya bekerja. Jika menyerah akan tambah parah, jika menunggu tidak akan maju"



Ada pemandangan menarik, sekaligus mengharukan bagi saya, ketika saya menjenguk Bantul minggu lalu. Salah satu kawasan gempa terparah di Yogyakarta tersebut mulai menunjukkan geliat kebangkitan. Di sepanjang jalan, spanduk berisikan kata-kata pembakar semangat dipasang, tujuannya satu : mengumandangkan hasrat, agar masyarakat bantul selekasnya bangkit dari kesulitan

Spanduk putih merah tersebut, terasa menyejukkan dan betul-betul membangkitkan semangat. Filosofi sederhana terbaca, bahwa harta benda bukanlah segalanya, bahwa bencana bukan berarti semangat melemah, dan cara terbaik melewati semuanya adalah bangkit, dan berdiri di kaki sendiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain.

Dari berbagai cerita masyarakat yang saya temui, dahsyatnya gempa bahkan membuat sebagain besar masyarakat tak mampu berlari kencang karena terguncang kanan dan kiri, gempa bergelombang merambah tanah, hingga membuat tanah padat melaju bagai ombak air. Meski kenangan tersebut melekat di sebagian besar benak pengungsi, setiap kisah selalu diakhiri tawa kebersamaan yang terdengar pasrah. Bagi mereka rumah yang hilang tak mungkin kembali jika ditangisi, jalan satu-satunya hanya bekerja keras. Dan itu yang membuat saya terpana diam.

Kini masyarakat Bantul tinggal di "rumah" warna warni yang semakin menjamur. Berbagai jenis tenda yang kini berfungsi layaknya rumah utama, menjadi satu-satunya tempat berteduh dan berkumpul . Tempat pulang tawa anak-anak ke pangkuan sang ibu,dan payung hangat bagi keluaga. Ada tenda putih merah dari bantuan Iran, tenda putih Unicef, tenda hijau dari tentara, maupun tenda klasik dari terpal biru dan oranye. Tanpa dinding hangat, tanpa plester mengkilat.

Belum genap sebulan, ketika gempa mengguncang Yogyakarta. Dapur gotong royong didirikan, ibu-ibu bergantian memasak guna meredam rasa lapar di perut, bapak-bapak mulai menumpuk batako yang bisa diselamatkan, laki-laki dewasa mulai bekerja sama membangun fasilitas publik.Ladang-ladang mulai digarap, tanah mulai diairi. meskipun menghadapi tiupan angin dingin di malam hari dan guncangan gempa kecil yang memancing trauma, keinginan masyarakat untuk keluar dari kesulitan tampaknya mampu mengalahkan segalanya.

Saya melihat kebangkitan yang sesungguhnya. Masyarakat Yogya,berusaha berdiri di tengah rasa kehilangan, berusaha bermimpi di tengah realita yang membangunkan, berusaha tersenyum di tengah kenangan pahit yang terus melekat. Kebangkitan yang tentu tidak mudah dan akan menempuh perjalanan panjang. Gempa boleh meruntuhkan rumah mereka, namun kobar semangat tetap tinggal mengakar..

Dan saya menyaksikan itu dengan decak kagum yang sangat...

Monday, June 12, 2006

Soul filling farmers




Saya baru pulang dari Surabaya, kota yang diselimuti panas terik di Jawa Timur. Tapi hari Sabtu kemarin, panasnya terasa padam, oleh senyum dan canda tawa dari sepuluh petani kedelai hitam asal Trenggalek.

Ya,pekerjaan baru saya, memungkinkan saya akan beresentuhan dengan banyak petani. Berinteraksi dengan mereka, mendengarkan keluh maupun ksiah-kisah lucu di belahan dunia lain. Dunia yang tentu saja berbeda dengan yang sekarang saya jalani, tidak sumpek, tidak berpolusi, tidak ada ambisi, dan tidak ada teknologi.

Sabtu itu menjadi hari yang menyenangkan buat saya, meski judulnya melakukan perjalanan kerja, saya justru merasa mendapatkan ekstra liburan. Ekstra karena tidak hanya jalan-jalan, jiwa saya baterainya terisi.

Petani kedelai hitam tersebut, merupakan bagian besar dari proses supply bahan baku untuk kecap Bango. Iya, kecap manis lezat yang sudah lama digunakan oleh ibu saya. DI tiap butir kedelainya, tersimpan bulir-bulir kerja keras, energi matahari terik, maupun tangan-tangan tulus perawatan dari petani-petani tersebut.

Selama di Surabaya, saya tak henti-hentinya kagum pada sorot mata tangguh dari para petani. Menggambarkan semangat dan dedikasi. Rasanya, seperti diingatkan, bahwa selama ini, dengan berbagai kenikmatan yang saya raih, kadang masih terselip rasa malas, masih ternoda rasa kurang bersyukur, maupun kadang dicampuri rasa ambisi yang tidak jelas.

Bapak-bapak bersahaja itu terpuaskan dengan hasil panen yang berkualitas, cuaca yang baik, maupun cita-cita menyekolahkan anak cucu, Meski kulit sudah berkeriput, namun semangat dalam diri mereka menyala terus. Dan saya dapat merasakannya. Mereka tidak terganggu dengan suhu politik yang memanas, maupun rancangan RUU Pornografi dan Pornoaksi. Pun mereka juga tidak terusik dengan berita-berita infotainment. Cukuplah bagi mereka, hidup rukun dengan tetangga dan bisa bertahan hidup dari hari ke hari.

Sehari di Surabaya kemarin juga membuat saya bersemangat kembali, bersemangat bekerja keras untuk satu tujuan: mendedikasikan hidup saya agar bisa bermanfaat untuk orang lain, at least membantu orang untuk tersenyum.